RADARTUBAN- Sementara itu, hingga hari ketiga kemarin, laporan aduan masyarakat yang menjadi korban BBM pertalite bercampur air terus bertambah.
Satu-satunya pos pelayanan dan pengaduan konsumen terdampak wilayah Kabupaten Tuban yang berada SPBU 54.623.05 Sleko Tuban masih dipadati pelapor.
"Hingga hari ini (kemarin, Red) sudah ada 70 laporan aduan masuk di kami,’’ ungkap Admin SPBU Sleko Tuban Johan Wahyudi saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban.
Disampaikan Johan, dugaan pertalite bercampur air yang menyebabkan kerusakan kendaraan ini tidak hanya merugikan konsumen, tapi juga pengelola SPBU.
Sebab, kini masyarakat semakin tidak percaya dengan kualitas BBM warna hijau tersebut.
"Imbasnya cukup besar, dalam tiga hari terakhir ini konsumen banyak yang mencari pertamax, bisa dilihat di antrean pertalite yang biasanya panjang, sekarang ini cukup lengang,’’ keluhnya.
Lebih lanjut, Johan mengatakan, pihaknya meyakini bahwa untuk saat ini stok pertalite di SPBU naungannya sudah aman seperti semula. Kendati demikian, konsumen masih was-was menggunakannya. "Saya pastikan untuk saat ini pertalite sudah aman,’’ ujarnya.
Disinggung mengenai keterlambatan stok pertamax yang banyak diburu masyarakat, Johan menyebut tidak sampai ada stok BBM yang terlambat.
Hanya saja, dia mengamini jika stok pertamax dalam tiga terakhir ini lebih cepat habis. "Masih aman, sebelum habis sudah kami antisipasi,’’ imbuhnya.
Menyikapi banyaknya aduan masyarakat, Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Ahad Rahedi mengatakan, batas waktu pengaduan sebenarnya berakhir kemarin.
Namun, pihaknya memutuskan tetap membuka pos aduan demi memberikan kesempatan masyarakat untuk melapor.
"Masih akan kami layani untuk posko pengaduan di SPBU,’’ katanya. (an/tok)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni