RADARTUBAN - Dari puluhan proyek fisik di perubahan APBD 2025 yang paling mendapat atensi adalah proyek bidang sumber daya air (SDA) pada Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRPRKP) Tuban.
Pantauan Jawa Pos Radar Tuban di laman SPSE Pemkab Tuban, tercatat ada sebelas paket proyek baru dilelang pada Minggu (30/10).
Untuk ukuran proyek kabupaten, kesebelas paket tender tersebut termasuk proyek fisik berskala besar.
Rata-rata di atas satu miliar, bahkan ada yang hampir dua miliar.
Merujuk tahapan di laman lelang online, tahapan lelang dimulai 28 Oktober hingga 27 November.
Dari tahap pengumuman pascakualifikasi sampai penandatanganan kontrak.
Praktis, hanya tersisa waktu satu bulanan untuk menuntaskan kesebelas proyek tersebut.
Belum lagi terpotong waktu uitzet atau tahap pengukuran ulang lapangan sebelum pembangunan konstruksi dimulai.
‘’Proyek fisik berskala besar, apalagi proyek SDA, yang dikerjakan hanya dalam waktu dua bulan, bahkan malah hanya satu bulan, perspektif saya ini sangat dipaksakan.
Lebih baik dijadikan multi-year atau digeser ke tahun berikutnya dengan penyiapan yang lebih rapi, sehingga hasilnya lebih maksimal,’’ kata Dosen Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya, Putu Aditya Ferdian Ariawantara.
Disampaikan Ferdian, jika tujuannya untuk mencapai kualitas pembangunan yang baik, maka pemerintah daerah tidak perlu memaksakan proyek-proyek berskala besar harus tuntas sebelum akhir tahun.
‘’Singkatnya, pola proyek yang baru bergerak di akhir tahun ini memang menandakan perencanaan yang tidak matang,’’ jelasnya.
Ketua Gabungan Perusahaan Kontraktor Nasional (Gapeknas) Tuban Mukaffi Makki mengatakan, waktu satu bulan untuk mengerjakan proyek fisik dengan nilai miliaran, dan terlebih lagi berkaitan dengan akivitas irigasi pertanian, menurutnya sangat tidak masuk akal.
‘’Bagaimana mungkin kontraktor bisa menyelesaikan proyek dengan risiko besar hanya dalam waktu satu bulan, ini sangat tidak masuk akal,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Diakui Kaffi, munculnya sejumlah proyek SDA di menjelang tutup tahun anggaran itu membuat dirinya terkejut.
‘’Sekali lagi, ini benar-benar tidak masuk akal. Bagaimana proses perencanaannya?
Kok bisa-bisanya, proyek SDA, yang risikonya juga besar (di tengah musim penghujan, Red), tapi baru dilelang sekarang,’’ ujarnya.
Lebih lanjut dia menyampaikan, dirinya sangat tidak yakin proyek SDA ini bakal tuntas sebelum akhir tahun.
Artinya, jika lelang proyek ini dilanjut, maka hampir dapat dipastikan tidak selesai.
‘’Pertanyaannya sekarang, jika proyek ini tidak selesai atau molor, siapa yang bertanggung jawab, apakah kontraktornya? Sementara pada kasus ini, kontraktor adalah ‘korban’ dari perencanaan yang tidak matang,’’ jelasnya.
Kaffi menambahkan, masalah klasik ini harus mendapat atensi dari bupati.
Sebab, jika terjadi kegagalan proyek, maka yang dirugikan adalah pemerintah daerah.
‘’Perencanaan yang tidak matang ini harus dievaluasi secara total,’’ tandasnya.
IM, salah satu kontraktor lokal mengungkapkan, proyek SDA yang baru memulai tahap lelang ini sangat mengkhawatirkan. Terlebih bagi peserta lelang.
Menurutnya, proyek dengan tenggat waktu pengerjaan yang sangat mepet ini seperti “menjebak” kontraktor pada pilihan yang sangat sulit.
‘’Jika PPK (pejabat pembuat komitmen) mampu memaparkan metode dan jadwal pelaksanaan penyelesaian pekerjaan, bagi kami tidak masalah. Pertanyaannya sekarang, mampu tidak PPK memenuhi syarat itu. Jika tidak (mampu, Red), proyek ini menjadi ‘jebakan’ bagi kontraktor,’’ katanya.
Sementara itu, lanjut dia, PPK memiliki wewenang untuk memutus kontrak apabila rekanan tidak mampu menuntaskan proyek.
‘’Pertanyaan lanjutannya, jika kemudian diklaim merugikan keuangan negara, siapa yang bertanggung jawab? Sementara semua ini berawal dari perencanaan yang tidak matang,’’ tandasnya.
Sementara itu, dari beberapa hari lalu hingga berita ini ditulis, Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUPRPRKP Tuban Ichwan Sulityo belum bisa dikonfirmasi.
Pesan WA yang dikirim wartawan koran ini juga belum dijawab. Upaya telepon juga belum membuahkan hasil. (*)
Editor : Amin Fauzie