Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Solar Langka di Tuban, Ratusan Nelayan Berhenti Melaut: Antre Sehari Baru Dapat BBM

Andreyan (An) • Rabu, 5 November 2025 | 00:35 WIB
Aktivitas nelayan Kelurahan Karangsari, Kecamatan Tuban yang sudah sepekan tidak melaut karena solar langka, kemarin (3/10).
Aktivitas nelayan Kelurahan Karangsari, Kecamatan Tuban yang sudah sepekan tidak melaut karena solar langka, kemarin (3/10).

RADARTUBAN – Sepekan terakhir ini, sebagian besar nelayan di pesisir Tuban berhenti melaut. Itu menyusul kelangkaan BBM jenis solar di sejumlah SPBU.

Nelayan di Kelurahan Karang, Kecamatan Tuban, misalnya, sudah hampir sepuluh hari terakhir ini jarang melaut.

"Bahan bakar (solar, Red) sulit dicari. Untuk bisa melaut harus antre sampai sehari baru dapat solar,’’ keluh Mohammad, 48, nelayan asal kelurahan setempat saat ditemui wartawan koran ini kemarin.

Menurut Amad—panggilan akrabnya, keluhan serupa dialami hampir semua nelayan di pesisir Tuban, dari ujung timur hingga barat.

Kendati mengantongi izin membeli solar di SPBU, namun untuk mendapatkannya cukup sulit.

"Harus antre panjang dengan kendaraan umum yang juga membutuhkan solar,’’ ujarnya.

Lebih lanjut, pria paro baya itu mengatakan, penderitaan para pencari ikan semakin bertambah lantaran sejak sebulan terakhir ini ada pembatasan pembelian solar bagi nelayan. Saban pembelian dibatasi maksimal 60 liter.

"Bayangkan, kebutuhan melaut saja untuk kategori kapal kecil minimal 100 liter, tapi kita hanya diperbolehkan membeli 60 liter. Pastinya sangat berimbas pada perolehan ikan setiap melaut,’’ bebernya.

Keluhan serupa juga diungkapkan Arif, 44, nelayan lain yang turut terimbas akibat langkanya stok solar di SPBU. Sejak dua pekan terakhir ini, penghasilannya pun turun drastis.

Biasanya, terang dia, sekali melaut—dengan jangka waktu beberapa hari, rata-rata mendapat penghasilan kotor sekitar Rp 15 juta, yang kemudian dibagi dengan para awak kapal dan dikurangi ongkos operasional.

"Biasanya, sepekan bisa sampai tiga kali melaut, sekarang sudah sepekan tak melaut,’’ tutur dia.

Dituturkan Arif, fenomena solar langka ini hampir selalu terjadi dan terulang setiap kali menjelang akhir tahun. Dia berharap persoalan ini bisa segera diatasi.

Sebab, banyak masyarakat yang turut terdampak dengan adanya keterbatasan stok solar. "Lagi-lagi masyarakat kecil yang menjadi korban,’’ jelas dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan (Diskopumdag) Tuban Gunadi menyampaikan, fenomena keterbatasan stok solar di wilayah Tuban menjadi atensi dari instansinya untuk segera memulihkan persoalan tersebut secepat mungkin.

Dikatakan Gunadi, setelah ini akan melakukan koordinasi dengan Pertamina Patra Niaga, selaku pemasok BBM di wilayah Tuban, serta mendorong pihak terkait untuk menjamin stabilitas pasokan solar.

"Kami juga akan melakukan pengawasan dan memonitoring secara berkala di lapangan guna menjamin stoknya aman bagi masyarakat, serta mencegah adanya penyalahgunaan oleh oknum yang tidak bertanggung-jawab,’’ tandasnya. (an/tok)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#bbm #Tuban #solar #SPBU #Melaut #nelayan