RADARTUBAN- Sementara itu, setelah sempat bungkam, Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus akhirnya angkat suara menyikapi banyaknya keluhan kendaraan mbrebet di wilayah Tuban yang biang keladinya diduga akibat BBM jenis pertamax.
Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi menyampaikan keprihatinannya sekaligus permohonan maafnya kepada masyarakat atas ketidaknyamanan pada mesin kendaraan dalam menggunakan BBM sepekan terakhir.
"Kami sangat terbuka terhadap keluhan dari masyarakat, ini akan menjadi bahan evaluasi bagi kami untuk meningkatkan pelayanan serta menghadirkan produk yang aman dan berkualitas bagi masyarakat,’’ ujar dia.
Disampaikan Ahad, seluruh proses distribusi BBM telah dilaksanakan sesuai standar operasi prosedur (SOP) yang berlaku, termasuk pemeriksaan mutu produk melalui pengujian laboratorium sebelum disalurkan kepada masyarakat.
"Setiap tahapan distribusi dilakukan berdasarkan standar yang ditetapkan, kami pastikan kualitas produk untuk saat ini masih tetap terjaga, termasuk pasokan stoknya,’’ dalihnya.
Pihaknya juga memastikan penyaluran BBM tetap berjalan sebagaimana mestinya, serta memastikan seluruh produk yang disalurkan telah melalui pengawasan ketat mulai dari terminal pengirim hingga lembaga penyalur resmi.
Lebih lanjut dikatakan olehnya, masih banyaknya keluhan dari masyarakat serta meluasnya dampak dari BBM dalam dua pekan terakhir, akhirnya membuat Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus memperpanjang layanan posko aduan di sejumlah titik SPBU termasuk wilayah Kabupaten Tuban.
"Posko layanan aduan kami perpanjang sampai 10 November mendatang. Tak hanya posko, kami juga menyiagakan bengkel khusus untuk membantu perbaikan konsumen yang terdampak,’’ beber Ahad.
Kendati posko aduan diperpanjang dan layanan bengkel dibuka oleh Pertamina, namun sebagian besar masyarakat yang menjadi korban kendaraan mbrebet memilih untuk tidak melapor dan membengkelkan sendiri kendaraannya, seperti yang dilakukan Ahok, warga Kelurahan Gedongombo.
Sejak kendaraanya mengalami mbrebet usai mengisi BBM di SPBU tiga hari lalu, dirinya memilih untuk tidak melapor dan membenahi kendaraannya secara mandiri.
"Untuk apa lapor, pihak terkait saja belum memastikan akan mengganti seluruh kerugian yang diakibatkan dari kendaraan mbrebet,’’ keluhnya.
Disampaikan olehnya, sejak munculnya keluhan kendaraan mbrebet akibat pertalite dan pertamax dirinya turut dibuat bingung untuk memilih BBM yang aman untuk kendaraannya.
"Kalau dua-duanya bermasalah, kita sebagai konsumen harus memilih BBM apa lagi yang aman,’’ tandasnya. (an/tok)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni