RADARTUBAN – Suara ayam belum rampung berkokok, tapi suasana Dusun Simbatan, Desa Jarorejo, Kecamatan Kerek, sudah berubah mencekam. Subuh Rabu (5/11), ketenangan kampung tiba-tiba pecah oleh jeritan minta tolong.
Riyadi, perangkat desa yang dikenal ramah, meregang nyawa bersimbah darah setelah dihujani tebasan parang oleh tetangganya sendiri, Warsidam, 50, seorang satpam pabrik semen.
Polisi sudah memasang garis kuning di halaman rumah Wulan, 55. Sisa bercak darah di tembok, lantai, sampai ruang tamu masih tampak jelas.
Bau anyir pun belum hilang. Rumah yang biasanya hanya jadi tempat berteduh kini berubah jadi saksi pembantaian tragis.
Wulan masih terlihat linglung saat ditemui Jawa Pos Radar Tuban. Ia menjadi saksi mata bagaimana tetangganya dibacok hidup-hidup di depan mata.
“Korban dan pelaku sempat mau menabrak saya dan cucu saya yang berusia empat tahun. Saya berusaha melerai, tapi ayunan parang itu semakin brutal, bahkan tak terhitung seberapa banyak,” ujarnya dengan suara bergetar.
Korban Dibacok Berkali-kali
Menurut Wulan, kejadian itu berlangsung cepat. Sekitar pukul 05.00, ia mendengar suara teriakan minta tolong memanggil namanya.
Begitu keluar rumah, ia melihat Riyadi berlari sempoyongan ke arah rumahnya dengan tubuh berlumuran darah. Dari belakang, Warsidam mengejar sambil menebaskan parang bertubi-tubi tanpa ampun.
“Korban akhirnya jatuh di halaman, sudah tidak bisa bergerak. Tangannya bahkan hampir putus,” imbuhnya.
Kesaksian serupa datang dari Sunarti, 48, tetangga yang tinggal sekitar 30 meter dari lokasi kejadian.
Ia mengaku sempat melihat korban mengisi air sebelum pelaku datang menghampiri. “Tidak ada pertengkaran atau obrolan, tiba-tiba langsung membacok,” ucapnya.
Yang mengejutkan, usai membunuh, Warsidam justru melaju dengan motor dan menyerahkan diri ke Polsek Kerek.
“Sepengetahuan kami, mereka tidak punya masalah sebelumnya. Tapi pelaku memang dikenal tertutup dan pendiam. Korban malah dikenal supel,” tutur Narti.
Pelaku Mengaku Cemburu
Namun, rumor lama kini mulai tersingkap. Beberapa warga mengaku pernah mendengar pelaku sempat bersitegang dengan istrinya, bahkan sampai adu fisik. Kini, motif di balik pembunuhan pun terkuak: cemburu.
Di hadapan penyidik dan awak media, Warsidam mengaku nekat membunuh karena menemukan chat mesra antara korban dan istrinya.
“Saya belum tahu mereka pernah jalan atau belum. Setiap kali saya tanya ke istri, dia tidak mau ngaku. Isi chat itu bikin saya sakit hati,” kata Warsidam, suaranya datar, nyaris tanpa penyesalan.
Kanit Pidana Umum (Pidum) Satreskrim Polres Tuban, Ipda Moch. Rudi, membenarkan bahwa motif pembunuhan dilatarbelakangi persoalan asmara.
“Kami juga akan mendalami kemungkinan motif lain, termasuk dugaan pembunuhan berencana,” ujarnya.
Terancam Hukuman Maksimal 15 Tahun
Kini, si satpam pencemburu itu harus bersiap menghadapi jerat hukum berat.
Polisi menjeratnya dengan Pasal 338 KUHP subsider Pasal 351 ayat 3 KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatkan kematian. Ancaman hukumannya: penjara maksimal 15 tahun.
Sementara itu, di Desa Jarorejo, pagi yang biasanya tenang kini meninggalkan trauma dan cerita pahit. “Kami masih nggak percaya, cuma gara-gara chat bisa sampai segitunya,” bisik warga di warung kopi.
Dan di antara bisik-bisik itu, hanya satu yang benar-benar menggema: cinta, ketika dibakar cemburu, bisa berubah jadi api paling mematikan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni