RADARTUBAN – Rencana penataan becak wisata dan shuttle peziarah di kawasan Makam Sunan Bonang Tuban lagi-lagi belum sesuai harapan.
Meski sudah ada kesepakatan bersama antara paguyuban becak wisata, organda, dan pedagang kaki lima (PKL) sejak Senin (3/11) lalu, faktanya hingga Rabu (5/11) belum ada perubahan berarti di lapangan.
Pantauan Jawa Pos Radar Tuban menunjukkan, puluhan becak wisata masih tampak mangkal di Jalan KH Mustain, seolah tak tersentuh kebijakan baru.
Peziarah yang semestinya diarahkan keluar lewat pintu barat menuju Jalan Pemuda—untuk selanjutnya diangkut mobil penumpang umum (MPU)—juga masih banyak yang keluar lewat pintu timur, seperti kebiasaan lama.
Situasi ini membuat arus keluar masuk peziarah kembali tumpang-tindih. Becak-becak wisata yang bertahan di jalur KH Mustain pun kembali beroperasi normal, mengangkut rombongan menuju Terminal Wisata Kebonsari.
Peziarah Mengaku Tak Tahu Ada Aturan Baru
Salah satu peziarah, Rokim, mengaku tak tahu adanya aturan baru soal arah keluar. Ia mengira semua masih seperti biasa.
“Tidak ada petugas yang mengarahkan, jadi kami lewat pintu timur saja,” ujarnya polos.
Rokim juga menyebut ada petugas Satpol PP yang berjaga di lokasi, tapi tidak memberi arahan atau larangan apa pun.
Kondisi ini menunjukkan, sosialisasi dan pengawasan di lapangan belum berjalan maksimal.
Padahal, kesepakatan awal antara para pihak sudah mengatur secara jelas sistem keluar-masuk dan zona operasional becak wisata agar kawasan makam wali tertua di Tuban itu lebih tertib dan nyaman bagi pengunjung.
Kedepankan Langkah Preventif
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) Tuban, Anthon Tri Laksono tak menampik hal itu.
Anthon mengakui penerapan di tahap awal masih bersifat preventif, sambil memastikan kesiapan semua pihak.
“Benar, seharusnya kesepakatan sudah mulai berlaku kemarin. Tapi kami masih dalam tahap pembenahan agar penataan bisa berjalan lebih baik,” tegasnya.
Pernyataan Anthon itu sekaligus menjadi sinyal bahwa upaya penataan kawasan wisata religi legendaris ini belum benar-benar solid.
Butuh lebih dari sekadar kesepakatan di atas kertas — perlu ketegasan di lapangan agar wajah baru kawasan Sunan Bonang tak berhenti di tataran rencana. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni