RADARTUBAN – Angka penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Tuban kembali bikin waswas.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dihimpun dari Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban, sepanjang 2024 tercatat sekitar 62 ribu warga Kota Legen terjangkit penyakit ini.
Di tengah tingginya kasus tersebut, muncul dugaan baru: apakah mikroplastik di udara ikut bermain?
Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD dr. R. Koesma, Erwin Era, tidak menampik potensi itu.
Menurutnya, partikel mikroplastik yang beterbangan bisa terhirup dan memicu gangguan pernapasan.
“Memang mikroplastik bisa memicu infeksi, tapi seberapa besar pengaruhnya belum bisa kami pastikan. ISPA paling banyak tetap disebabkan oleh virus,” ujar dokter Erwin kepada Radar Tuban, Kamis (6/11).
Mikroplastik Mudah Terhirup Saat Bernapas
Sinyal bahaya juga datang dari Prof. Dr. Supiana Diana Nurtjahyani, M.Kes, Guru Besar bidang mikrobiologi sekaligus Ketua Komisi Penjaminan Mutu Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban.
Menurutnya, mikroplastik berukuran di bawah lima milimeter bisa dengan mudah terhirup saat bernapas, menempel di jaringan paru, dan menimbulkan iritasi.
“Partikel itu bisa menyebabkan kerusakan jaringan paru. Apalagi jika mengandung bahan kimia tambahan seperti BPA, ftalat, atau dioksin yang beracun,” jelas mantan Rektor Unirow itu.
Dian—sapaan akrabnya—menambahkan, partikel mikroplastik juga bisa menyerap polutan lain dari lingkungan sekitar dan membawa senyawa berbahaya ke tubuh manusia.
“Kandungan itu bisa ikut terserap saat terhirup. Jadi, efeknya tidak hanya mekanis, tapi juga kimiawi,” terangnya.
Sampah Plastik di Pantai Jadi Sorotan
Kondisi di sepanjang pantai Tuban pun jadi sorotan. Sampah plastik masih menumpuk di beberapa titik pesisir.
Dian khawatir, sampah-sampah tersebut akan terurai menjadi mikroplastik dan mencemari ekosistem laut maupun udara.
“Saya sering ikut kegiatan bersih pantai, dan memang plastiknya luar biasa banyak. Pembersihan harus dilakukan berkelanjutan,” tegasnya.
Sebagai solusi, Dian menekankan pentingnya pengelolaan sampah plastik berbasis energi terbarukan.
“Misalnya melalui pirolisis, plastik diubah jadi solar. Jadi tidak hanya mengurangi sampah, tapi juga menghasilkan energi alternatif,” sarannya.
Baca Juga: Penting untuk Tahu, Mengapa AC Mobil Perlu Dirawat Rutin? Salah Satunya Menghindari Alergi dan ISPA
Indonesia Belum Miliki Parameter Uji Kadar Mikroplastik
Sementara itu, Kepala Bidang Persampahan Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) Tuban, Arwin Mustofa, mengakui hingga kini Indonesia belum memiliki parameter resmi untuk menguji kadar mikroplastik.
“Selama ini kami belum melakukan uji dengan parameter mikroplastik. Pengujian baru sebatas fisik, kimia, dan mikrobiologi,” ungkapnya.
Meski begitu, Arwin menyebut sudah ada beberapa referensi luar negeri yang menetapkan standar uji mikroplastik.
“Indonesia perlu penelitian sendiri agar sesuai Standar Nasional Indonesia. Kalau nanti ada aturan menteri, tentu akan kami jalankan,” ujarnya.
Dari udara, laut, hingga tanah, mikroplastik kini menjelma menjadi ancaman baru yang nyaris tak terlihat.
Dan Tuban—dengan pantai panjangnya dan aktivitas masyarakatnya—tampaknya perlu bersiap menghadapi musuh kecil yang diam-diam bisa menggerogoti paru dan planet ini. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni