RADARTUBAN – Museum Kambang Putih Tuban bukan sekadar ruang pajang barang kuno. Di balik kaca etalasenya, tersimpan 5.774 jejak masa lalu Tuban.
Sebagian besar bukan temuan arkeolog, tapi hasil penyerahan warga yang rela menghibahkan warisan keluarganya.
Diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban, Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Tuban, Mohammad Emawan Putra menyebut museum terbuka bagi siapa pun yang ingin menitipkan warisan sejarahnya.
“Jika penerus tidak memiliki waktu untuk merawat benda-benda peninggalan tersebut, maka di museum dipastikan akan terawat dengan baik,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Emawan, sapaan akrabnya menjelaskan, tidak ada batas usia untuk benda yang dihibahkan. Syarat utamanya, benda tersebut harus punya nilai sejarah dan berkaitan dengan Tuban.
Dia mencontohkan pakaian adat peninggalan bupati Tuban terdahulu. Peninggalan tersebut bisa diterima.
“Benda itu harus punya nilai sejarah yang jelas, bukan asal-asalan dibuat sendiri,” ujarnya.
Sebelum dipajang, setiap benda akan melewati proses kurasi untuk memastikan keaslian dan usianya.
Terutama bagi benda yang berpotensi masuk kategori cagar budaya.
Kini, museum yang berdiri di jantung kota Tuban itu sudah menyimpan 5.774 koleksi.
Angka tersebut termasuk fragmen kepingan benda yang ditemukan dalam kondisi rapuh.
Dari lumpang batu, keris, wayang klithik, hingga barongsai tua. Semuanya menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Bumi Ronggolawe.
“Untuk jumlah detail koleksi hasil hibah saya belum bisa memastikan, karena koleksi museum sendiri mencapai 5 ribu lebih,” tandasnya.
Staf Museum Kambang Putih, Deni Anto menambahkan tidak semua benda bisa dipajang di ruang display.
“Kita display yang kerusakannya tidak parah. Kebanyakan fragmen piring keramik yang ditemukan di beberapa lokasi. Yang tidak terdisplay kami simpan di ruang terpisah,” ujarnya.
Deni menjelaskan, koleksi yang rusak parah disimpan rapat di ruang penyimpanan agar tetap terjaga.
“Karena sudah lama, jadi rapuh. Biasanya saat ditemukan, benda kuno itu sudah terpecah beberapa bagian. Bagian-bagian itu juga dihitung sebagai koleksi,” tambahnya.(saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama