Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Misteri Naskah Ramalan Tertua di Tuban Berusia 300 Tahun: Ditulis di Daun Lontar, Konon Bisa Menebak Nasib Manusia!

Shafa Dina Hayuning Mentari • Kamis, 13 November 2025 | 01:19 WIB

 

Staf Museum Kambang Putih Deni Anto memperlihatkan koleksi Naskah Kita Mangko abad ke-18 yang tersusun rapi di kotak.
Staf Museum Kambang Putih Deni Anto memperlihatkan koleksi Naskah Kita Mangko abad ke-18 yang tersusun rapi di kotak.

RADARTUBAN – Naskah Kita Mangko yang diperkirakan berumur tiga abad kini tersimpan rapi di Museum Kambang Putih Tuban.

Naskah langka, tua, sakral, dan nyaris dilupakan ini bukan sembarang catatan.

Kitab ini ditulis tangan di atas 72 lembar daun lontar.

Naskah berbagai jenis ramalan masa depan tersebut ditulis dengan aksara Jawa baru.

Deni Anto, staf Museum Kambang Putih Tuban mengatakan, salah satu naskah tersebut mengupas Jinujung Drajat Kita Mengko yang menandakan peningkatan derajat.

Naskah lain membahas Lamppaheb Mangging Bencana Kita Mengko yang memberi isyarat datangnya malapetaka.

“Sayangnya kami tidak tahu pasti arti dari Kita Mangko dan bagaimana penggunaan ramalan ini, apakah cara membacanya seperti tarot atau ada metode khusus lainnya. Tidak ada panduan tertulis yang tersisa. Yang kami tahu, ramalan ini didasarkan pada hari kelahiran atau pakuwon jakun,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Menurut Deni, di masa lampau naskah ini kemungkinan hanya bisa dibaca oleh ahli ramal atau sesepuh yang memahami tiap simbol di daun lontar.

Layaknya pembaca tarot masa kini, mereka dipercaya memberi arah dan petunjuk hidup.

Deni menyebut Naskah Kita Mangko termasuk koleksi tertua di Museum Kambang Putih.

“Naskah ini sudah ada sejak masa awal masuknya Islam di wilayah Tuban. Kami tidak memiliki catatan apakah naskah ini hasil hibah atau temuan. Yang jelas sejak 1984 sudah berada di pendapa sebelum akhirnya dipindah ke Museum Kambang Putih pada 1996,” terangnya.

Menariknya, di luar naskah itu masih ada versi yang lebih tua, Naskah Ramalan Kite Mengke, kini tersimpan di Perpustakaan Nasional.

Bedanya, naskah itu ditulis dalam bahasa Sanskerta pada bilah bambu. Penyebutan Tuhan masih memakai istilah dewata, menandakan jejak kuat masa Hindu-Buddha.

“Sekarang yang populer di media sosial kan tarot dan zodiak. Jarang yang tahu kalau kita punya warisan ramalan sendiri,” ujarnya.

Kini Museum Kambang Putih menyimpan lebih dari 50 naskah kuno, saksi perjalanan sejarah dan budaya Bumi Ronggolawe.

“Untuk jumlah pastinya saya kurang tahu, yang jelas lebih dari 50 lembar. Naskah kuno itu dihitung per lembarnya. Sementara manuskrip atau buku kuno dihitung per jilidnya,” pungkas Deni. (sab/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Museum Kambang Putih #derajat #naskah #lontar #Catatan #kuno