RADARTUBAN – Bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan 2025, kemarin (10/11) Madrasah Ibtidaiyah (MI) Salafiyah Bangilan menggelar pelatihan jurnalistik bertajuk Menulis untuk Pahlawan.
Kegiatan yang diikuti siswa kelas IV itu berlangsung di Pendapa Sumur Waru, Desa Sidokumpul, Kecamatan Bangilan.
Hadir sebagai narasumber, wartawan Jawa Pos Radar Tuban, Ahmad Atho’illah.
Selain menyampaikan materi dasar-dasar jurnalistik dan panduan menulis berita menggunakan rumus 5W+1H, anak-anak juga diajak menyelami dunia kewartawanan hingga membedakan antara berita dan informasi, serta perbedaan antara media massa dan media sosial.
Para peserta tampak antusias mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir. Beberapa siswa juga aktif bertanya.
Seperti menanyakan: bagaimana menulis berita yang baik dan syarat menjadi seorang penulis?
Pertanyaan yang sangat menarik tersebut dijawab dengan lugas oleh narasumber.
Atok—sapaan akrab—Ahmad Atho’illah menegaskan, satu di antara syarat yang harus dimiliki seorang wartawan maupun penulis agar menghasilkan berita dan tulisan yang bagus adalah dengan membaca.
‘’Apa pun profesinya, membaca adalah keharusan. Apalagi menjadi seorang wartawan atau penulis, agar tulisannya bagus, maka harus membaca,’’ ujarnya yang mengajak anak-anak untuk gemar membaca.
Lebih lanjut Atok menyampaikan, menulis adalah kerja-kerja keabadian.
Pun demikian dengan gelar pahlawan yang disandang oleh seseorang, akan selalu abadi untuk diingat.
Terlebih, para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.
‘’Tugas kita dalam mengabadikan jasa-jasa pahlawan adalah dengan menulis perjuangannya. Dan, pahlawan kita hari ini adalah bapak dan ibu guru. Karena itu, ceritakan dan tulislah perjuangan bapak-ibu guru yang telah mendidik kita,’’ tutur Atok yang mengajak para siswa untuk menuliskan kisah dan perjuangan bapak-ibu guru masing-masing.
Kepala MI Salafiyah Bangilan, Muhlisin mengatakan, pelatihan jurnalistik bersama Jawa Pos Radar Tuban merupakan pengalaman berharga bagi anak didiknya.
Pasalnya, selama ini, mereka hanya mengetahui dunia jurnalistik dari kulit luarnya saja.
‘’Dengan pelatihan jurnalistik ini, anak-anak menjadi paham: apa itu wartawan, apa itu berita, dan apa itu media massa,’’ tuturnya.
Tidak kalah penting dari itu semua, terang Muhlisin, adalah memberikan pemahaman kepada siswa dalam menggunakan media sosial.
Sebab di era sekarang ini, penggunaan media sosial di kalangan anak-anak sulit dihindarkan.
‘’Yang bisa kita lakukan adalah memberikan filter kepada anak-anak agar bisa memilah dan memilih konten-konten media sosial yang positif dan mengedukasi,’’ tandasnya.
Turut mendampingi dalam kegiatan tersebut, wali kelas 6A, Rohmat Sholihin dan wali kelas 6B, Sholeha. (tok)
Editor : Yudha Satria Aditama