RADARTUBAN – Langit pagi di Alun-Alun Tuban, Selasa (12/11), seakan ikut berseri menyambut momen bersejarah.
Di tengah upacara Hari Jadi ke 732 Kabupaten Tuban, Bupati Aditya Halindra Faridzky menerima kado istimewa: sertifikat Indikasi Geografis (IG) untuk Batik Tulis Tenun Gedhog Tuban.
Sertifikat bergengsi itu diserahkan langsung oleh Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Reni Yanita, di hadapan ribuan peserta upacara, jajaran forkopimda, tokoh masyarakat, hingga para pengrajin batik lokal.
Bagi Mas Lindra—sapaan akrab bupati muda tersebut—momen itu bukan sekadar seremoni.
Lebih dari itu, pengakuan IG adalah penegasan jati diri, bukti nyata bahwa budaya dan kreativitas masyarakat Tuban mampu berdiri sejajar di panggung nasional.
“Diakuinya batik tulis tenun gedhog sebagai warisan budaya leluhur asli Tuban ini adalah hasil kerja keras masyarakat dan semua pihak dalam menjaga kelestarian tradisi,” tegas bupati dua periode itu.
Mas Lindra menambahkan, kekayaan intelektual itu harus dijadikan motivasi untuk terus menghidupkan industri batik dan tenun Tuban.
“Kekayaan intelektual ini harus kita jadikan motivasi untuk terus melestarikan batik tenun gedhog sebagai salah satu identitas budaya Kabupaten Tuban,” ujarnya penuh semangat.
Warisan yang Bernapas, Bukan Sekadar Kain
Bupati alumni Universitas Airlangga itu menyebut capaian tersebut sejalan dengan semangat tema Hari Jadi Tuban tahun ini: Lanjutkan Karya Bersama.
Menurutnya, pelestarian budaya bukan hanya soal menjaga tradisi, tapi juga bagaimana menjadikannya sumber kesejahteraan masyarakat.
“Semangat pelestarian dan kecintaan terhadap kekayaan budaya ini diharapkan bisa memberikan dampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, terutama bagi para pengrajin dan pelaku UMKM batik tenun gedhog di Tuban,” ujar politisi muda Partai Golkar itu.
Mas Lindra menegaskan bahwa Pemkab Tuban bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) akan terus mengawal dan mengembangkan sektor industri kecil menengah berbasis budaya.
Fokusnya jelas: agar batik dan tenun Tuban tak hanya dikenal karena keindahan motifnya, tetapi juga karena mampu menghidupi warganya.
Apresiasi dari Pusat, Komitmen untuk Masa Depan
Dirjen IKMA Reni Yanita yang hadir langsung di Tuban menyampaikan apresiasi atas keberhasilan daerah ini mengantongi Sertifikat IG.
Ia menegaskan bahwa capaian tersebut adalah tonggak penting, namun bukan akhir dari perjalanan.
“Capaian bersejarah ini bukan tujuan akhir, melainkan awal untuk menegaskan komitmen dalam melestarikan identitas budaya,” katanya.
Reni juga mengajak generasi muda agar ikut melanjutkan semangat pelestarian warisan budaya yang telah ditetapkan sebagai identitas daerah.
“Komitmen ini harus dijaga bersama dengan mengajak generasi penerus agar turut serta melestarikan warisan budaya ini,” tandasnya.
Generasi Ronggolawe dan Asa Baru Tuban
Usai upacara, Mas Lindra menyerahkan sejumlah penghargaan kepada putra-putri terbaik Kabupaten Tuban.
Mereka adalah generasi yang telah menorehkan prestasi di tingkat nasional dan internasional.
Di puncak peringatan Hari Jadi Tuban itu, bupati termuda di Jawa Timur tersebut mengajak seluruh masyarakat meneladani semangat Ronggolawe: keberanian, kerja keras, dan kesetiaan pada tanah kelahiran.
“Jangan pernah padamkan nyala semangat Ronggolawe. Mari kita ukir sejarah baru dan jadikan Tuban sebagai mercusuar di Jawa Timur dan kebanggaan Indonesia,” pungkasnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni