Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kantor Swabina Gatra Tuban Mendadak WFA, Buruh Meradang: Ini Cara Kabur dari Tanggung Jawab!

M. Mahfudz Muntaha • Sabtu, 15 November 2025 | 01:47 WIB
Serikat pekerja Tuban mengancam meneruskan aksi ke Gresik jika tak ada kejelasan.
Serikat pekerja Tuban mengancam meneruskan aksi ke Gresik jika tak ada kejelasan.

RADARTUBAN — Kantor perwakilan PT Swabina Gatra di Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek, terlihat seperti bangunan tak bertuan, Jumat (14/11) pagi. Pintu terkunci, meja-meja kosong, dan tak ada satu pun staf yang muncul.

Namun suasana di halaman justru sebaliknya: bendera FSPMI terpajang di pagar, mobil komando terparkir menutup gerbang, dan musik aksi bergema memecah kesunyian.

Pemandangan itu bukan kali pertama terjadi. Sehari sebelumnya, Kamis (13/11), kondisi kantor juga sama lengangnya.

Para pekerja outsourcing yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) menyimpulkan satu hal: seluruh staf PT Swabina Gatra kompak memilih work from anywhere (WFA).

Bukan karena kebijakan baru, melainkan dugaan kuat untuk menghindari gelombang protes buruh yang menuntut kompensasi PKWT mereka.

Minta Kejelasan Pembayaran Kompensasi Pekerja PKWT

Ketua Konsulat Cabang FSPMI Tuban, Duraji, tak bisa menyembunyikan kekesalan. Beberapa kali ia menghela napas panjang sebelum bicara, tapi kalimatnya tetap tegas.

“Sikap dari PT Swabina Gatra memang tidak ada niat untuk membayarkan kompensasi. Karena semua pekerja tidak ngantor untuk menghindari aksi,” katanya.

Tuntutan yang mereka bawa sebenarnya sederhana: meminta kejelasan pembayaran kompensasi tujuh pekerja PKWT.

Nilainya pun tidak besar—sekitar Rp 10 juta. Kontrak mereka hanya enam bulan.

Namun menurut Aji, sapaan akrab Duraji, yang membuat buruh tak terima adalah sikap perusahaan yang dianggap terus menghindar.

Ia mengingatkan, sejak awal para pekerja sudah dibuat tak nyaman. Mereka pernah diminta menandatangani surat pernyataan pelepasan hak kompensasi sebelum mulai bekerja pada Juli lalu. Sebuah langkah yang oleh para buruh dianggap janggal.

“Makanya kami akan terus melakukan aksi, sampai Swabina Gatra mau membayar kompensasi,” tegas aktivis buruh asal Merakurak itu.

Meski kantor kosong dan tidak ada yang mau menemui, massa buruh tidak bubar. Mereka berdiri di depan pagar hingga aksi benar-benar rampung.

Beberapa di antara mereka bergumam kesal, lainnya sibuk berdiskusi soal langkah selanjutnya.

Ancam Geruduk Kantor Pusat di Gresik

Dan langkah itu sudah disiapkan. Bila PT Swabina Gatra tetap diam, ancaman FSPMI jelas: aksi akan dinaikkan ke level berikutnya.

“Kalau tidak ada kepastian, minggu depan kami akan melakukan aksi di Gresik,” imbuh Duraji.

Mereka siap menggandeng serikat pekerja di kawasan kantor pusat Swabina Gatra untuk memperkuat tekanan.

Duraji juga menegaskan bahwa persoalan seperti ini bukan kasus tunggal. “Karena masalah PT Swabina Gatra ini bukan sekali ini saja, tetapi sudah beberapa kali dalam beberapa tahun terakhir,” pungkasnya.

Bagi para pekerja, aksi ini bukan sekadar soal nominal kompensasi. Ini soal sikap perusahaan terhadap hak-hak buruh. Dan sepanjang kantor Swabina terus kosong, mereka berjanji suaranya akan semakin keras. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Tuban #kompensasi #PKWT #buruh #fspmi #PT Swabina Gatra #wfa