Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kesaksian Eks Karyawan Ungkap Dugaan Diskriminasi di SPPG Gedongombo 2 Tuban

Andreyan (An) • Kamis, 20 November 2025 | 02:50 WIB
Ilustrasi dugaan diskriminasi karyawan di SPPG Gedongombo 2 Tuban.
Ilustrasi dugaan diskriminasi karyawan di SPPG Gedongombo 2 Tuban.

RADARTUBAN– Aroma busuk dugaan kebobrokan dalam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gedongombo 2 semakin menyengat.

Itu setelah satu per satu eks karyawan dapur umur tersebut mulai berani bersuara pasca terjadinya pemecatan kontroversial oleh pengelola SPPG yang beralamat di Km 1, Jalan Raya Tuban-Babat, Lingkungan Widengan RT 03 RW 10, Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding itu.

Setelah terungkap dugaan ketidakberesan pengelolaan gaji pada SPPG tersebut, kini muncul sinyalir diskriminasi dalam tubuh karyawan yang dibongkar eks karyawan dari SPPG Gedongombo 2.

YT, inisial karyawan yang baru diberhentikan Senin (17/11) mengungkap, dirinya diberhentikan bersamaan dengan dua rekannya, berinisial AI dan AS dengan alasan yang tidak jelas.

‘’Saya tidak pernah mendapatkan SP (surat peringatan, Red) satu sebelumnya, tiba-tiba dipanggil dan diberhentikan secara mendadak,’’ ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Tuban, Rabu (19/11).

Fakta yang diungkap pria 25 tahun itu persis dengan kesaksian AI dan AS yang diwawancarai wartawan koran ini Selasa (18/11).

YT menyebut setelah muncul berita ketidakberesan pada pengelolaan gaji karyawan SPPG, pihak Yayasan SPPG Gedongombo 2 menuding dirinya bersama AI dan AS sebagai otak di balik aduan yang beredar tersebut.

‘’Bukannya memberikan solusi untuk keluhan karyawannya yang sampai terdengar di media, malah melakukan pemecatan tidak mendasar pada sejumlah karyawannya,’’ beber YT.

Dia menyebut kontroversi pemecatan secara mendadak tidak hanya dialami. Sepekan lalu, salah seorang rekannya dari divisi pencucian juga dipaksa angkat kaki dari SPPG setelah melakukan pelanggaran merokok di area luar dapur MBG.

‘’Memang tindakan tersebut salah, tapi pada kasus serupa, pihak pelanggar masih dikenakan SP satu. Sedangkan kasus rekan saya ini tanpa diberikan ampun langsung dikeluarkan,’’ jelasnya.

Senada disampaikan AS. Kasus hampir sama terjadi pada dua rekan sesama karyawan yang mendapat skorsing berupa tidak dipekerjakan selama satu pekan setelah ketahuan merokok di wilayah dapur MBG.

AS menyebut tindakan yang dilakukan rekannya itu wajar mendapatkan hukuman lantaran lokasi SPPG berada di dekat kawasan lembaga pendidikan.

Namun, pertanyaan yang muncul kemudian, mengapa skorsing hanya diberikan kepada karyawan tertentu.

Padahal, beberapa kali dirinya bersama rekan lainnya sering mendapati asisten lapangan (aslap) setempat merokok di area dapur MBG, bahkan di dalam ruangan.

‘’Sepertinya skorsing dan hukuman hanya diperuntukan untuk orang-orang tertentu saja,’’ ujar dia.

Dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp terkait dugaan deskriminasi dan ketidakberesan pengelolaan gaji dalam SPPG Gedongombo 2, Aslap SPPG Gedongombo 2 Muhith Abrori tak memberikan keterangan apa pun hingga berita ini ditulis pukul 17.15. (*)

Editor : Amin Fauzie
#pemecatan #Tuban #diskriminasi #SPPG Gedongombo 2 #gaji #karyawan