RADARTUBAN – Belum juga selesai dengan cuaca yang tak menentu, petani di Kabupaten Tuban kembali harus menghadapi masalah klasik: pupuk subsidi kembali langka.
Seolah tidak ada habisnya, persoalan yang muncul hampir tiap tahun ini kembali menghantui para petani di masa krusial awal musim tanam.
Di sejumlah desa di Kecamatan Tambakboyo, kondisi itu sudah dirasakan hampir dua bulan.
Latif, salah satu petani setempat, mengaku sampai kehabisan akal untuk mencari pupuk subsidi yang biasanya mudah ditemui.
“Sudah hampir dua bulan ini sulit sekali mendapat pupuk subsidi,” keluhnya. Padahal beberapa bulan lalu stok justru melimpah.
Biasanya setiap Jumat pupuk datang dua kali pengiriman. Tapi kini hanya muncul sekali dan itu pun tidak lengkap.
“Kemarin itu di kios ada pupuk yang baru datang, tapi saat saya mengambil cuma ada satu, padahal biasanya mendapat NPK dan urea,” ungkapnya.
Petani makin bingung karena jawaban dari kios maupun penyuluh pertanian selalu serupa: tidak ada yang tahu kenapa distribusi tiba-tiba tersendat.
“Kalau seperti ini, ya menyusahkan petani,” sambung Latif.
Jatah Mendadak Berkurang, Petani Merakurak Ikut Terdampak
Keluhan serupa datang dari Kecamatan Merakurak. Purnomo, petani di wilayah itu, mengaku tiba-tiba dihadapkan pada pilihan yang tak pernah terjadi sebelumnya: hanya boleh mengambil satu jenis pupuk.
Padahal, ia sudah dua bulan terakhir tidak mengambil jatah.
“Saat saya mau mengambil dua (pupuk subsidi), katanya tinggal ada jatah satu,” jelasnya.
Karena kebutuhan tanaman tidak bisa menunggu, Purnomo terpaksa membeli pupuk non-subsidi—yang jelas harganya jauh lebih memberatkan.
DKP2P Belum Memberi Penjelasan
Hingga berita ini ditulis tadi malam, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP2P) Tuban, Eko Julianto, belum dapat dikonfirmasi terkait dugaan kelangkaan pupuk di beberapa kecamatan tersebut.
Sementara petani berharap ada kepastian distribusi, mereka harus tetap bergerak menanam dengan kondisi yang serba kurang.
Krisis pupuk subsidi yang terus berulang menjadi alarm keras: petani tidak hanya membutuhkan pupuk, tetapi juga kepastian—hal yang selalu terasa paling langka dari semuanya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni