Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

PKL Sunan Bonang Tuban Direlokasi ke Halaman Kantor Pos, Mengeluh Sepi Pembeli!

M. Mahfudz Muntaha • Selasa, 25 November 2025 | 22:57 WIB
PKL Sunan Bonang mengaku dagangan sepi setelah dipindah ke belakang Kantor Pos Tuban sejak tiga hari lalu.
PKL Sunan Bonang mengaku dagangan sepi setelah dipindah ke belakang Kantor Pos Tuban sejak tiga hari lalu.

RADARTUBAN – Upaya penataan kawasan wisata religi Makam Sunan Bonang Tuban di era kepemimpinan Bupati Aditya Halindra Faridzky kembali menyentuh para pedagang kaki lima (PKL).

Setelah 11 bulan tak punya tempat berjualan, para penjual aksesori dan oleh-oleh di pintu masuk timur makam akhirnya digeser ke lokasi baru: halaman belakang Kantor Pos Tuban.

Namun harapan tak serta-merta berbuah. Tiga hari pasca-relokasi, yang muncul justru keluhan: dagangan tak laku.

Sutaji, ketua Tim Penataan PKL, memastikan seluruh 46 PKL yang dulu memenuhi gerbang timur kini sudah berpindah ke lokasi baru.

Mantan camat Bancar itu menyebut relokasi ini bagian dari upaya menata arus wisata agar lebih rapi sekaligus menghindarkan PKL dari konflik dengan Satpol PP.

“Targetnya, peziarah yang akan naik kendaraan shuttle dan melewati mereka bisa membeli produknya,” ujarnya.

Menurutnya, area belakang Kantor Pos lebih aman. Tidak mengganggu lalu lintas pengunjung, dan PKL tak lagi berkali-kali ditegur petugas. “Kalau di sini aman,” tegasnya.

Baca Juga: Sikapi Demo PKL untuk Kembali Berjualan di Jalan Sunan Bonang, Bupati Tuban Mas Lindra Harus Hormati Regulasi

Sebelumnya Berjualan di Pintu Gerbang Timur

Sebelumnya, setelah dipaksa meninggalkan pintu gerbang timur makam, para pedagang sempat limbung.

Tanpa lokasi yang jelas, sebagian nekat berjualan di sekitar alun-alun, tapi lagi-lagi diminta pindah.

Relokasi ke halaman Kantor Pos setidaknya memberi kepastian ruang, meski belum memberi kepastian rezeki.

Sutaji—yang juga kepala Bidang Damkar Satpol PP Tuban—berharap pada dua hari paling ramai: Sabtu dan Minggu.

Saat itu jumlah peziarah meningkat, dan mereka yang menuju Terminal Wisata Kebonsari harus naik shuttle melewati deretan PKL. “Harapannya, mobilitas peziarah itu ikut menghidupkan jualan kawan-kawan,” katanya.

PKL : Lokasi Baru Jauh dari Ideal

Tetapi di lapangan, realitas berbeda. Farid Hendra, pengurus Paguyuban PKL Sunan Bonang, menyebut lokasi baru jauh dari ideal.

Penyebabnya bukan sekadar posisi, tetapi pola pergerakan peziarah yang belum bisa diatur. “Begitu keluar dari makam, mereka langsung naik mobil shuttle,” keluhnya.

Seorang PKL yang enggan disebut namanya membenarkan. Sudah tiga hari mangkal di titik shuttle, tapi pembeli hanya beberapa.

Kebanyakan peziarah langsung memilih mobil angkutan umum. Mereka lewat begitu saja, tanpa menoleh pada jajaran lapak.

“Entah sampai kapan kami bisa bertahan dengan kondisi seperti sekarang ini,” katanya lirih.

Keluhan itu menunjukkan satu hal: penataan ruang tak cukup hanya memindahkan pedagang.

Relokasi harus dibarengi rekayasa arus wisata, promosi lokasi baru, dan integrasi penuh dengan sistem shuttle. Tanpa itu, PKL hanya berpindah tempat—bukan naik kelas.

Kini bola berada di tangan Pemkab Tuban. Penataan PKL Sunan Bonang memang bergerak, tetapi keberlanjutan hidup para pedagang harus ikut menjadi prioritas.

Sebab, wajah wisata religi bukan hanya bangunan, tapi juga manusia yang menggantungkan hidup di sekitarnya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Tuban #Pemkab Tuban #Bupati Tuban #relokasi #kantor psi #Mas Lindra #sepi #Aditya Halindra Faridzky #pkl #Makam Sunan Bonang