Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Belasan Tahun Menunggu, Seratus Lebih CJH Tuban Akhirnya Justru Memilih Mundur

M. Mahfudz Muntaha • Kamis, 27 November 2025 | 18:34 WIB
Ilustrasi pelaksanaan ibadah haji
Ilustrasi pelaksanaan ibadah haji

RADARTUBAN - Belasan tahun menunggu bukan jaminan sampai ke Tanah Suci.

Di Tuban, antrean panjang justru berbalik arah.

Saat ribuan calon jemaah haji (CJH) bersiap melunasi biaya perjalanan, sebagian kecil justru mengambil langkah paling berat: mengurungkan niat berangkat.

Data Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Tuban mencatat 109 CJH memilih mundur.

Dari jumlah itu, 107 orang menunda keberangkatan.

Sementara dua lainnya benar-benar membatalkan diri dan menarik kembali setoran awal.

Plt Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Tuban Imam Bukhori mengatakan keputusan itu tidak muncul tiba-tiba.

Ada proses panjang di baliknya. Sejak pertengahan tahun lalu, pengajuan penundaan terus masuk ke kantor Kemenag. Bulan demi bulan angkanya bertambah hingga November.

“Hasil verifikasi terakhir total akhir 97 orang. Selanjutnya yang sudah mengundurkan diri itu dilaporkan ke Kantor Wilayah Kemenag Jawa Timur. Selanjutnya jemaah yang tunda, datanya dihilangkan dari daftar berangkat tahun depan,” ujarnya saat diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban.

Tuban Mendapat Kuota 1.575 CJH

Namun daftar itu kembali berubah setelah Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 23 Tahun 2025 menetapkan kuota nasional. Tuban mendapat jatah 1.575 orang.

Dalam proses penyesuaian tersebut, muncul lagi 10 orang yang meminta tunda dan dua yang membatalkan secara penuh.

Pertanyaan terbesar pun muncul: mengapa banyak yang menunda, padahal sebagian dari mereka sudah menunggu bertahun-tahun bahkan belasan tahun?

Imam menyebut alasannya berlapis. Dari ekonomi yang melemah, kondisi keluarga, kesehatan yang tak lagi mendukung, hingga CJH yang wafat sebelum jadwal keberangkatan.

“Seperti masalah ekonomi itu karena kehidupan berputar, mungkin dulu waktu daftar secara ekonomi baik, tapi sekarang sedang turun, membuat CJH memilih mengumpulkan uang terlebih dahulu,” terang pejabat yang juga definitif Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Tuban itu.

Dengan menunda, para jemaah berharap ada ruang untuk memperbaiki keadaan. Menabung lagi. Menyiapkan pelunasan biaya perjalanan ibadah haji (bipih) tanpa tekanan.

Dua Orang Tarik Setoran Awal

Berbeda dengan para penunda, dua orang yang membatalkan diri total didorong kebutuhan hidup yang tak bisa dielakkan.

Imam menyebut keduanya terpaksa menarik uang setoran awal Rp 25 juta dari bank penerima setoran.

“Seperti kemarin itu uang setoran awal diambil untuk biaya kuliah anak,” bebernya.

Di tengah panjangnya daftar tunggu haji, kisah 109 CJH mundur ini menunjukkan realitas yang kerap tak terlihat: bahwa berhaji bukan sekadar upaya spiritual, tapi juga perjuangan ekonomi dan kondisi hidup.

Ada yang bisa bertahan melunasi mimpi, ada pula yang harus jeda—bahkan menyerah—demi keluarga yang butuh diselamatkan. (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#cjh tuban #ekonomi #kesehatan #haji dan umrah #berangkat haji #Kemenag Tuban