RADARTUBAN - Dentuman ritmis rebana menggema sejak pagi di aula Dinas Pendidikan Tuban, Kamis (27/11).
Satu per satu grup dari berbagai kecamatan tampil dengan kekhasan aransemen mereka, seolah ingin membuktikan bahwa seni tradisi bukan sekadar warisan—tetapi napas hidup anak-anak Tuban hari ini.
Festival Rebana Tingkat SD, bagian dari Student Festival Week 2025 untuk memperingati Hari Jadi ke 732 Kabupaten Tuban, mempertemukan 19 peserta dari hampir seluruh kecamatan. Hanya Kecamatan Palang yang absen tanpa mengirimkan wakil.
Kegiatan tersebut diselenggarakan Dinas Pendidikan menggandeng Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam (KKG PAI) Kabupaten Tuban.
Kompetisi yang berlangsung sehari penuh itu dinilai oleh tiga juri: Ust. Ahmad Rofii, Ust. M. Saiful Bahri, dan Ust. Misbakhul Munir. Kriteria penilaian meliputi vokal, musik, serta adab dan penampilan.
Baca Juga: Tim Rebana Kecamatan Tuban Juarai Festival Rebana se-Tuban
Grup Rebana Pantura Merajai
Dari seluruh penampilan, perwakilan Kecamatan Jenu tampil paling menonjol. Mereka meraih Juara 1 dengan total skor 93,5, memadukan kekompakan vokal dan hentakan rebana yang rapi.
Di posisi berikutnya, grup rebana Tambakboyo mengunci Juara 2 dengan total skor 92,5.
Dua perwakilan dari Pantura menjadi yang teratas dalam festival tersebut. Disusul Parengan yang meraih Juara 3 dengan total skor 92.
Untuk kategori harapan, Jatirogo berada di puncak dengan total skor 91,5, disusul Senori (85,5), dan Kecamatan Tuban harus puas menjadi juara harapan 3 dengan total skor 85.
Disdik Beri Apresiasi
Festival dibuka oleh Kepala Bidang Pengelolaan Pendidikan SD Disdik Tuban, M. Nurdin, yang menegaskan bahwa ajang ini bukan sekadar lomba, tetapi ruang pembinaan seni bagi siswa.
“Kegiatan Festival Rebana Tingkat SD ini bertujuan untuk menggali potensi siswa, menyalurkan bakat siswa khususnya di bidang rebana di Kabupaten Tuban,” ujar Nurdin.
Nurdin mengapresiasi seluruh peserta yang tampil penuh totalitas dan menyampaikan selamat kepada para juara. Bagi Nurdin, semangat inilah yang menjaga seni tradisi tetap tumbuh di tangan generasi paling muda.
Dengan antusiasme peserta yang merata dari berbagai kecamatan, festival ini menegaskan satu hal: seni rebana tidak sedang surut—justru menemukan babak baru melalui anak-anak sekolah dasar yang tampil berani dan penuh percaya diri. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni