RADARTUBAN – Malam itu, panggung kecil di sisi selatan Tuban Abirama berubah menjadi ruang kejutan.
Dari pengeras suara, lirik “Percuma saja kau datang lagi…” milik Rita Sugiarto meluncur lantang.
Namun suara itu bukan milik penyanyi dangdut senior—melainkan bocah laki-laki berseragam putih.
Dengan tubuh mungil dan gerakan yang masih menyisakan kaku khas anak SD, ia berjoget tanpa kehilangan tempo. Suaranya stabil, keberaniannya nyaris tak masuk akal untuk anak seusianya.
Tak lama kemudian, dua MC cilik muncul. Wajah mereka masih menyimpan polos, tetapi pembawaannya matang.
Mereka memandu acara seperti sudah bertahun-tahun bergelut di panggung besar. Nada bicara rapi, gestur luwes, dan kostum yang tertata membuat malam itu seperti pentas mini pedangdut profesional.
Di balik panggung, seorang pria berkaos putih mengarahkan barisan bocah itu untuk berkumpul. Sesekali ia memberi koreksi, sesekali memuji.
Setelah sesi latihan usai, lelaki ini menghampiri wartawan koran ini, menyapa dengan senyum lebar. Ia adalah Muhammad Mustain, Sekretaris Persatuan Artis Musik Dangdut Indonesia (PAMDI) Tuban, atau yang akrab disapa Astro.
“Anak-anak ini adalah potensial muda yang kami bina, karena kami memiliki program pembinaan untuk talenta muda Tuban,’’ ujarnya.
Bibit Cilik dari Kota Legen
Program pembinaan itu dimulai sejak Mei 2025. Ini kelanjutan dari program tahun 2024 yang fokus pada penyanyi remaja.
Namun sebuah penampilan bocah asal Kota Legen di televisi swasta—dengan suara yang mencuri perhatian—membangkitkan gagasan baru dalam benak Mustain: Jika satu anak bisa sebaik itu, maka Tuban pasti menyimpan jauh lebih banyak yang belum tampak.
Maka lahirlah program pembinaan khusus anak SD. Namun langkah awal tidak mudah.
Saat pertama dibuka, hanya enam anak yang datang. “Meski enam anak kami tetap memberikan pembelajaran dunia entertainment,’’ kenang pria asal Desa Bejagung Kecamatan Semanding itu.
Minggu demi minggu, minat itu tumbuh. Dari enam, menjadi belasan, lalu puluhan.
Kini sudah ada 30 anak yang rutin belajar setiap malam Minggu di Tuban Abirama—ada yang menjadi penyanyi, pemusik, hingga MC cilik.
Mereka mulai terbiasa tampil penuh, seolah panggung itu milik mereka sendiri.
Mengajar Anak-Anak yang Masih Ingin Bermain
Astro dan timnya bukan hanya melatih teknik. Mereka harus bersaing dengan dunia bermain anak-anak.
“Karena anak-anak inikan masih memiliki jiwa bermain, kami pun harus menyesuaikan diri,’’ tutur pemilik nama panggung Host Astro Cucak Rempong itu.
Anak-anak itu diajari olah vokal, teknik pernapasan diafragma, hingga etika dan estetika panggung.
Mereka dilatih mental dengan tampil di ruang publik, berinteraksi dengan audiens, dan menghadapi suasana riuh tanpa kehilangan kendali.
“Kita ajari ilmu performa penguasaan panggung… dan ditanamkan adab, etika, estetika yang baik agar kelak bisa menjadi penyanyi profesional,’’ kata Astro.
Mulai Mengilap: Dari Pentas Kota hingga Panggung Nasional
Seiring waktu, buah pembinaan itu mulai tampak. PAMDI mencarikan panggung di berbagai acara masyarakat, juga mengirimkan mereka ke lomba-lomba tingkat kabupaten hingga luar kota. Jam terbang naik, percaya diri tumbuh, suara makin matang.
Beberapa nama bahkan sudah mencatat prestasi nasional:
– Anindya Syaqila, tampil di ajang nasional Mentari TV Jakarta.
– Anjani, usia 6 tahun, juara terfavorit FORSA IDOL Junior wilayah Lamongan–Tuban–Gresik–Bojonegoro.
– Duo host cilik CUA dan Chaca, bersinar di berbagai lomba modeling dan MC junior.
Dari panggung kecil di Tuban Abirama, jejak menuju panggung nasional perlahan terhampar.
Tuban Tidak Akan Kehabisan Bintang
Astro memandang jauh ke depan. Bagi PAMDI, program ini bukan sekadar mengajar anak bernyanyi, tetapi investasi masa depan dunia musik dangdut di Tuban.
“Paling tidak sepuluh tahun lagi bakat-bakat yang kami bina ini akan muncul, dan akan menguasai panggung. Dan tentunya bisa bersaing di tingkat nasional,’’ pungkasnya.
Di tengah gelombang genre musik baru, Tuban diam-diam menyiapkan generasi pedangdut ciliknya sendiri.
Bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk sepuluh tahun yang akan datang—ketika panggung besar menunggu siapa yang benar-benar siap bersinar. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni