RADARTUBAN – Upaya meningkatkan indeks kualitas air (IKA) di Kabupaten Tuban kembali menemui jalan terjal.
Meski bantuan kloset dan bong bis telah digelontorkan selama beberapa tahun terakhir, kondisi kualitas air pada 2024 tetap tertahan di angka yang belum menggembirakan.
Target peningkatan IKA yang ditetapkan tahun ini pun gagal tercapai.
Penyebab utamanya, kadar bakteri Escherichia coli (E.coli) di sejumlah titik sungai ditemukan melampaui ambang batas baku mutu.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan pencemaran air di Tuban tidak sesederhana yang dibayangkan.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban, Roikan, menjelaskan bahwa masalah E.coli di sungai tidak bisa hanya dikaitkan dengan perilaku manusia yang buang air sembarangan.
Baca Juga: 7 Cara Ampuh Hilangkan Bau Tak Sedap di Kotak Bekal agar Bersih dari Bakteri Pemicu Keracunan
“Kebiasaan manusia yang buang kotoran di sungai menurut saya sudah mulai berkurang saat ini. Terlebih adanya program sanitasi juga sedikit banyak menghilangkan kebiasaan masyarakat buang air di sungai,” terangnya.
Menurut Roikan, perlu dipahami bahwa sumber pencemaran E.coli bukan hanya berasal dari manusia.
Kotoran hewan juga turut menyumbang peningkatan bakteri tersebut, terutama di wilayah yang dekat dengan aktivitas peternakan atau aliran air yang bersentuhan langsung dengan lingkungan ternak.
Artinya, tidak semua titik yang tercemar bisa langsung disimpulkan sebagai dampak perilaku buang air sembarangan.
Karena itu, cia menilai banyak faktor yang harus ditelusuri lebih dalam sebelum membuat kesimpulan.
Dia juga membantah anggapan bahwa Dinkes lebih sering memeriksa sumur atau sumber air rumah tangga daripada memantau kualitas air sungai.
“Terus terang, belum ada laporan pada kami secara detail terkait kadar E.coli di sungai. Namun, jika seperti itu, kami akan memberikan masukan kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) sebagai upaya kolaborasi dan peningkatan indeks kualitas air,” tandas pejabat yang juga Direktur RSUD Ali Mashur Jatirogo itu.
Bahaya E.coli di Air, Tenaga Medis Ingatkan Warga untuk Waspada
Peringatan juga datang dari kalangan medis. Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD dr. Koesma Tuban, dr. Erwin Era Prasetya, menjelaskan bahwa E.coli yang masuk ke tubuh melalui air atau makanan dapat memberikan dampak kesehatan serius.
“Bakteri E.coli sebenarnya terbagi menjadi dua, yakni patogen dan nonpatogen. Keduanya memiliki dampak kesehatan yang berlawanan bagi manusia,” jelasnya.
Erwin menerangkan, E.coli nonpatogen justru berfungsi membantu tubuh, termasuk pembentukan vitamin K dan menjaga kesehatan saluran cerna. Namun, jenis patogen dapat menimbulkan berbagai penyakit.
“Contohnya E.coli O157 bisa menyebabkan diare berdarah, Enterotoxigenic E. coli (ETEC) juga menyebabkan diare, dan Uropathogenic E. coli (UPEC) menyebabkan infeksi saluran kemih,” papar pemilik Klinik Era Sehat Tuban itu.
Erwin menekankan pentingnya langkah-langkah pencegahan sederhana, seperti rutin mencuci tangan, memastikan air minum layak konsumsi, mengolah makanan dengan benar, dan menghindari konsumsi susu mentah.
“Jika kita tidak melakukan pencegahan, maka akan berisiko tinggi terkena E.coli,” tandasnya.
IKA Merosot, Enam Sungai Melebihi Baku Mutu E.coli
Sebelumnya diberitakan, nilai IKA Tuban pada 2024 berada di angka 58,72 persen, turun dari target yang dipatok yakni 59,86 persen.
Penurunan ini salah satunya dipicu oleh temuan E.coli yang melampaui batas di enam dari tujuh sungai sampel: Bektiharjo, Srunggo, Banyulangseh, Silowo, Bengawan Solo, Kali Kening, dan Nglirip.
Kepala Bidang Tata Lingkungan DLHP Tuban, Andi Setiawan, menyebut perilaku masyarakat juga masih menjadi tantangan, mulai dari buang air di sungai, membuang sampah sembarangan, hingga membiarkan limbah rumah tangga mengalir tanpa pengolahan.
Dengan berbagai persoalan itu, peningkatan kualitas air di Tuban membutuhkan kolaborasi lintas sektor, penguatan edukasi masyarakat, serta riset yang lebih mendalam untuk mengurai sumber pencemaran. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama