RADARTUBAN – Bola keputusan kini sepenuhnya berada di tangan Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky.
Setelah melalui serangkaian uji kelayakan dan kepatutan (UKK) hingga tes wawancara, tiga nama calon direktur Perumda Tirta Lestari resmi masuk meja bupati.
Salah satu dari mereka akan ditetapkan sebagai nakhoda baru PDAM di pengujung tahun ini.
Ketiga nama tersebut adalah Kartika Puspitasari (Kasubag Perencanaan Teknis), Kondang Aji Paripurna (Kepala Bagian Hubungan Langganan), dan Mokh. Irwanto (Kepala Bagian Keuangan).
Dua peserta lain, Arum Ardhiani dan Hendri Surya Indarta, tereliminasi. Seluruhnya merupakan pegawai internal PDAM, tidak seperti seleksi direksi Perseroda RSM yang pesertanya didominasi ASN.
Menunggu Pertek dari Mendagri
Ketua Panitia Seleksi (Pansel) Budi Wiyana menegaskan bahwa meski peserta seleksi bukan ASN, tahapan akhir tetap membutuhkan pertimbangan teknis dari Mendagri.
“Jadi, sebelum dilakukan pelantikan, terlebih dulu meminta pertimbangan teknis dari Mendagri,’’ jelas Budi.
Perteks itu menjadi dasar sah bahwa seluruh proses sudah sesuai aturan. “Yang menetapkan tetap Mas Bupati selaku KPM,’’ tegasnya.
Budi yang juga Sekda Tuban menargetkan pelantikan dapat digelar sebelum tutup tahun anggaran 2025. “Insya Allah pengajuan perteknya tidak lama,’’ katanya optimistis.
Dengan demikian, awal tahun mendatang PDAM sudah memiliki direktur definitif dan tidak lagi berjalan setengah tenaga.
Senioritas Irwanto Tinggi, Tapi Perusahaan Butuh Napas Kreatif
Dari ketiga calon, Irwanto menjadi nama dengan jam terbang tertinggi. Tahun depan ia memasuki usia 55 tahun—tinggal satu tahun menuju masa pensiun normal.
Bila terpilih, batas pensiunnya otomatis mundur menjadi 60 tahun sesuai aturan direksi BUMD.
“Dari ketiga nama itu, yang paling senior adalah Pak Irwanto, sedangkan yang paling muda adalah Kartika,’’ ujar sumber internal PDAM.
Namun sumber tersebut juga memberikan catatan tajam. Senioritas, menurutnya, bukan jaminan. PDAM kini membutuhkan energi baru.
“Dalam memimpin sebuah perusahaan, senioritas tidak menjadi jaminan. Terpenting adalah kreativitas dan inovasi. Apalagi sekarang banyak generasi mudanya. Meski senior, tapi jika tidak bisa mengimbangi dan membaur generasi muda, ya berat,’’ katanya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa PDAM membutuhkan figur yang tak sekadar memahami struktur birokrasi, tetapi mampu membawa organisasi adaptif, lincah, dan inovatif.
Di tengah tuntutan pelayanan air bersih yang terus meningkat, dibutuhkan pemimpin yang siap mengeksekusi modernisasi, bukan sekadar mengelola rutinitas.
Final di Meja Bupati Tuban Mas Lindra
Kini, seluruh sorotan tertuju pada Bupati Tuban Mas Lindra. Pilihan yang diambil tidak hanya menentukan arah PDAM lima tahun ke depan, tetapi juga menjadi indikator bagaimana orang nomor satu di Tuban itu membaca kebutuhan zaman: mempertahankan pengalaman panjang atau memberi ruang bagi energi baru yang lebih progresif.
Pansel tak memberi rekomendasi siapa yang paling layak. Sumber internal pun enggan memberi penilaian akhir.
Tiga nama dibiarkan melayang tanpa urutan, menunggu satu keputusan penentu: siapa yang akan memimpin PDAM Tirta Lestari di tengah tuntutan transformasi pelayanan air bersih.
Dalam beberapa hari ke depan, publik akan menunggu apakah Bupati Lindra memilih figur paling senior, paling muda, atau paling inovatif. Yang jelas, kursi direktur PDAM bukan lagi sekadar jabatan struktural—melainkan ujian keberanian memilih masa depan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni