RADARTUBAN – Deretan industri besar berdiri di Kabupaten Tuban seperti magnet ekonomi.
Namun di balik geliat pabrik dan mesin produksi itu, potret kualitas tenaga kerja ternyata jauh dari yang dibayangkan.
Struktur ketenagakerjaan di Bumi Ronggolawe sampai hari ini masih bertumpu pada pekerja berpendidikan sekolah dasar (SD) ke bawah. Jumlahnya bukan sekadar besar, tapi hampir setengah dari seluruh penduduk bekerja.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Tuban menyebut, pada 2025 terdapat 335.544 pekerja berpendidikan SD ke bawah, setara 48,07 persen dari total penduduk bekerja sebanyak 698.005 orang.
Di sisi lain, lulusan perguruan tinggi—yang identik dengan kompetensi dan spesialisasi—hanya 7,57 persen atau 52.823 orang.
Angka ini menunjukkan jurang kualitas yang masih lebar, meski industri besar tumbuh di berbagai kecamatan.
Baca Juga: Bukan Gaji, Tapi Hal Ini yang Bikin Pekerja Merasa Bahagia Setiap Hari
Tahun Ini Sedikit Menurun
Kondisi tahun ini sebenarnya mulai bergeser. Kelompok pekerja lulusan SD mengalami penurunan 1,80 persen poin dari tahun sebelumnya.
Sebaliknya, lulusan perguruan tinggi naik 0,79 persen poin. Meski begitu, pergeseran ini masih terlalu tipis untuk mengubah wajah ketenagakerjaan Tuban secara struktural.
Statistisi Ahli Muda BPS Tuban, Triana Puji Lestari, menegaskan bahwa penurunan paling signifikan memang terjadi di kelompok lulusan SD.
“Penurunan tertinggi ada pada penduduk bekerja yang berpendidikan SD dibandingkan tingkat pendidikan lain yang ditamatkan,” tuturnya.
Di lapisan tengah, pekerja lulusan SMP menyumbang 19,22 persen, SMA 14,16 persen, dan SMK 10,98 persen. Selebihnya, tenaga terampil lulusan perguruan tinggi masih menjadi minoritas.
Pola Kerja Fleksibel dan Mau Masuk Sektor Informal
Triana menjelaskan mengapa pekerja berpendidikan rendah tetap mendominasi. Pola kerja mereka fleksibel dan cenderung bersedia masuk ke sektor informal.
“Pekerja dengan pendidikan rendah cenderung mau melakukan banyak pekerjaan informal. Sedangkan lulusan perguruan tinggi memilih pekerjaan yang sesuai kompetensi dan jurusannya,” jelasnya.
Masalah berikutnya: industri yang ada pun belum sepenuhnya menyerap profil tenaga kerja yang lebih terdidik.
Perusahaan besar cenderung mencari pekerja dengan kualifikasi tertentu.
Dan, jurusan lulusan perguruan tinggi belum tentu cocok dengan kebutuhan industri di Tuban.
“Lapangan usaha atau keterampilan yang dibutuhkan bisa jadi belum sesuai dengan yang diinginkan para pencari kerja lulusan perguruan tinggi,” tandas Triana.
Fenomena ini memperlihatkan satu kenyataan keras: pertumbuhan industri tidak otomatis melahirkan peluang yang setara bagi tenaga kerja terdidik.
Tuban masih bekerja dengan mesin besar, tetapi digerakkan mayoritas oleh sumber daya manusia yang minim pendidikan formal.
Tantangannya kini bagaimana meningkatkan kecocokan keterampilan dengan kebutuhan lapangan kerja—agar pertumbuhan industri benar-benar mengangkat kualitas ketenagakerjaan daerah, bukan hanya kuantitas pekerjanya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni