RADARTUBAN - Tiga di antara fokus pencegahan dan kesiapsiagaan yang sudah, sedang, serta akan dilaksanakan dan disiapkan BPBD Tuban secara konsisten.
Yakni membentuk Desa Tanggung Bencana (Destana) secara masif di semua desa rawan bencana se-Kabupaten Tuban, membentuk satuan pendidikan aman bencana dari tingkat TK hingga SMA, dan melaksanakan MoU (momorandum of understanding) pencegahan dan penanganan bencana di wilayah industri dengan seluruh perusahaan di Tuban.
Pekan lalu, sebagai langkah tindak lanjut dari pembentukan Destana, BPBD bersama sejumlah pemangku kepentingan di Dusun Kowasen, Desa Kumpulrejo, Kecamatan Bangilan, tepatnya di kawasan dataran tinggi perbukitan Sumber Mata Air Kriwik—melakukan penanaman pohon penghijauan.
Foto-foto selengkapnya di sini...
Kegiatan ini merupakan upaya menjaga dan memulihkan lingkungan yang rawan terhadap longsor dan erosi.
‘’Kegiatan ini merupakan bagian dari program Destana Menanam,’’ kata Kepala Pelaksana BPBD Tuban Sudarmaji kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Disampaikan Darmaji, pohon yang ditanam sesuai dengan kebutuhan dan kecocokan tanah di lokasi setempat, yakni ratusan bibit jambu air dan durian.
‘’Jadi, sebelum tanam telah dilakukan pemetaan, termasuk kecocokan struktur tanahnya. Sehingga apa yang kita tanam bisa memberikan manfaat untuk lingkungan dan masyarakat secara jangka panjang,’’ tuturnya.
Lebih lanjut, Doktor Sosiologi lulusan FISIP Universitas Brawijaya itu mengatakan, aksi tanam pohon ini merupakan hasil kolaborasi dari berbagai unsur.
Meliputi BPBD Kabupaten Tuban, BPBD Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kecamatan Bangilan, Pemerintah Desa Kumpulrejo, serta masyarakat setempat.
‘’Program Destana Menanam ini merupakan bentuk komitmen bersama untuk membangun kawasan yang lebih aman, lestari, dan berketahanan,’’ tegasnya.
Mantan Kabag Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) Sekretariat Daerah (Setda) Tuban itu menegaskan, dalam setiap kegiatan apa pun yang berkaitan dengan pencegahan, penanggulangan, dan penanganan bencana, peran serta masyarakat lokal begitu penting dan sangat dibutuhkan.
Sebab, merekalah first responders atau penanggap pertama ketika terjadi bencana.
Mulai dari tindakan penyelamatan darurat, memberikan pertolongan pertama, dan mengevakuasi diri sendiri serta tetangga sebelum bantuan resmi dari pemerintah atau lembaga lain tiba.
‘’Inilah pentingnya keberadaan Destana. Ketika masyarakat dilibatkan secara langsung dalam proses perencanaan dan pelaksanaan program penanggulangan bencana, solusi yang dihasilkan akan cenderung lebih sesuai dengan kebutuhan lapangan dan lebih berkelanjutan,’’ ujar Darmaji.
Dan tidak kalah penting, tegas mantan Camat Plumpang itu, adalah membangun rasa kepemilikan dan kepercayaan terhadap upaya bersama.
‘’Pesan ini sejalan dengan semangat gotong-royong yang selalu ditekankan Mas Bupati dalam setiap kegiatan yang melibatkan masyarakat. Utamanya dalam hal penanganan bencana,’’ tandasnya. (tok)
Editor : Yudha Satria Aditama