RADARTUBAN – Peta besar pembangunan pendidikan di Kabupaten Tuban memasuki babak baru.
Peresmian Aula dan Gedung Arsip Dinas Pendidikan, Selasa (2/12) lalu, bukan sekadar penambahan fasilitas, tetapi titik balik yang ingin dijadikan legacy oleh Bupati Aditya Halindra Faridzky untuk memperkuat ekosistem pendidikan daerah.
Dua bangunan itu kini berdiri lebih megah, tertata, dan disiapkan menjadi pusat kolaborasi lintas pelaku pendidikan—bahkan lintas komunitas.
Peresmian makin hangat dengan capaian prestisius: Dinas Pendidikan Tuban menerima rekor MURI untuk program Pelita Hati, unggahan video literasi digital karya guru dan siswa terbanyak di Indonesia.
Namun sorotan utama hari itu kembali kepada pesan Mas Lindra—yang tak hanya meresmikan bangunan, tetapi merumuskan arah baru pemanfaatannya.
Aula Didesain untuk Menyatu, Menghidupkan, dan Menggerakkan Pendidikan
Di hadapan jajaran Disdik, para pendidik, dan tamu undangan, Mas Lindra menegaskan bahwa keberadaan aula tidak boleh hanya menjadi ruang seremonial.
Ia menempatkannya sebagai ruang hidup, tempat gagasan tumbuh, serta titik temu bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan.
“Saya titip gedung ini dijadikan gedung yang penuh berkah, jangan digunakan untuk kepentingan-kepentingan negatif. Karena kita tujuannya bukan berorientasi pada profit, melainkan membentuk pelayanan kita pada masyarakat,” ujar bupati muda itu.
Nada pesannya tegas: aula ini harus menjadi rumah bagi kegiatan yang membangun.
Ruang itu diproyeksikan tidak hanya sebagai ruang rapat dinas, tetapi terbuka bagi aktivitas seni, budaya, dan kreativitas—mulai dari latihan gamelan, pertunjukan wayang, hingga kegiatan menulis dan bercerita.
Aula tersebut, dalam pandangannya, harus memancarkan semangat melayani dan merangkul masyarakat.
Gedung Arsip: Menguatkan Administrasi, Membangun Memori Pendidikan
Pembangunan gedung arsip juga mendapat sorotan dari Mas Lindra sebagai bagian dari fondasi tata kelola pendidikan yang lebih profesional.
Penataan dokumen, data, dan administrasi dinilai menjadi elemen penting dalam menciptakan kebijakan yang akurat dan pelayanan yang rapi.
Fasilitas baru ini disiapkan untuk memastikan bahwa jejak perjalanan pendidikan Tuban terekam, terawat, dan mudah dikelola.
Plt Kepala Dinas Pendidikan, Fien Roekmini Koesnawangsih, mengakui perubahan besar itu. Fien menyebut aula yang dulu “pengap meski luas” kini sudah berubah wajah menjadi representatif dan layak menjadi pusat aktivitas strategis.
“Ini merupakan hal yang patut kami syukuri,” tuturnya.
Prestasi MURI: Ledakan Literasi dari 85 Ribu Karya Guru dan Siswa
Di momentum yang sama, Dinas Pendidikan Tuban meraih penghargaan MURI melalui program Pelita Hati. Target awal hanya 20 ribu video literasi.
Namun antusiasme luar biasa dari 1.871 lembaga pendidikan membuat angka itu meledak hingga 85 ribu karya sastra—sebuah pencapaian kolektif yang mencerminkan energi pendidikan Tuban.
Bagi Mas Lindra, prestasi ini bukan sekadar angka, melainkan bukti bahwa guru dan siswa Tuban memiliki gairah kuat untuk berkarya dan terus bergerak maju.
Legacy untuk Generasi, Bukan Sekadar Gedung
Di akhir pesannya, Mas Lindra menyatakan bahwa aula dan gedung arsip bukan hanya bangunan fisik, melainkan warisan perencanaan besar bagi masa depan pendidikan Tuban.
Bupati dua periode itu berharap dua fasilitas ini menjadi pusat sinergi yang menghidupkan kreativitas, menggerakkan inovasi, dan memperluas layanan.
Baginya, pembangunan pendidikan yang kuat harus memiliki tempat, cerita, dan ruang yang mempersatukan. Dan di sanalah aula baru Disdik ingin dijadikan titik awalnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni