Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

88 Kantong Darah di Tuban Terindikasi HIV hingga Hepatitis, PMI Pastikan Tak Sampai ke Pasien

Shafa Dina Hayuning Mentari • Minggu, 7 Desember 2025 | 23:54 WIB

 

Petugas Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia (UDD PMI) Tuban saat memeriksa stok darah.
Petugas Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia (UDD PMI) Tuban saat memeriksa stok darah.

RADARTUBAN – Tidak semua tetes darah yang disumbangkan pendonor di Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia (UDD PMI) Tuban bisa menyelamatkan nyawa.

Sebagian harus dimusnahkan setelah gagal lolos skrining empat virus menular; HIV, sifilis, hepatitis B, dan hepatitis C.

Data sebelas bulan terakhir menunjukkan 88 kantong darah dari 13.930 pendonor terbukti reaktif. Rinciannya, 4 reaktif HIV, 13 sifilis, 11 hepatitis C, dan 60 hepatitis B.

Begitu darahnya dinyatakan reaktif, UDD PMI langsung mencekal sementara hingga permanen pendonornya demi keamanan distribusi.

Diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban, Humas UDD PMI Tuban, Sarju Efendy menegaskan bahwa pemeriksaan merupakan skrining, bukan alat diagnosa.

Dengan demikian, setelah ditemukan reaktif salah satu virus menular, maka pendonornya disarankan untuk melakukan tiga kali pemeriksaan selama tiga bulan berturut-turut di PMI.

Jika setelah tiga bulan hasilnya nonreaktif, mereka bisa donor kembali.

‘’Namun, jika tetap reaktif, kami akan rujuk ke rumah sakit dan dicekal permanen dari kegiatan donor darah,” tegasnya.

Jika pendonor menolak tes ulang, lanjut Sarju, PMI langsung mencekal permanen.

Dia mengakui banyak pendonor yang merasa sehat, sehingga tidak menerima hasil skrining. Akibatnya, panggilan tes ulang sering diabaikan.

“Yang datang tidak sampai 50 persen dari jumlah yang reaktif. Bahkan, jika hanya satu orang yang memenuhi panggilan saja sudah bagus. Tidak jarang juga ada pendonor yang marah-marah karena hasil pemeriksaannya reaktif,” ungkapnya.

Sarju menekankan, tes ulang penting untuk memutus potensi penularan.

Menurut dia, virus paling sering ditemukan pada pendonor baru yang belum pernah terskrining. Sebagian pendonor lama juga reaktif, namun jumlahnya kecil.

“Biasanya virus tersebut ditemukan pada pendonor baru yang sebelumnya belum pernah donor darah. Mereka cenderung berisiko tinggi reaktif virus karena sebelumnya tidak pernah terskrining,” jelas dia.

Namun demikian, Sarju meminta masyarakat tenang. Itu karena setiap kantong darah yang reaktif langsung dimusnahkan dan tidak sampai ke pasien.

“Jadi yang terdistribusi kami jamin keamanannya dan bebas dari virus berbahaya,” tandasnya.(saf) 

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #donor darah #virus #pmi #hiv #sifilis #hepatitis c