Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Serapan Tenaga Kerja di Tuban Didominasi Pertanian, Industri Terus Menyusut

Shafa Dina Hayuning Mentari • Senin, 8 Desember 2025 | 01:05 WIB
Kondisi pasar tradisional di Pasar Bongkaran di area Pasar Baru Tuban. Pekerja sektor ini meningkat dari tahun ke tahun.
Kondisi pasar tradisional di Pasar Bongkaran di area Pasar Baru Tuban. Pekerja sektor ini meningkat dari tahun ke tahun.

RADARTUBAN – Meski di Tuban berdiri deretan pabrik raksasa, tapi denyut hidup sebagian besar warganya masih berkutat di sektor pertanian.

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) membuka fakta itu.

Sektor pertanian tetap jadi andalan serapan tenaga kerja, sementara industri justru menciut dalam tiga tahun terakhir.

Angkanya mencolok. Pada 2023, pekerja pertanian tercatat 39,52 persen. Setahun kemudian naik menjadi 41,36 persen. Pada 2025, merangkak lagi ke 41,92 persen.

Trennya cenderung naik pelan. Angka ini kontras dengan sektor industri. Pada 2023, porsinya 20,47 persen. Tahun berikutnya, 2024 merosot ke 18,23 persen.

Kemudian, turun lagi menjadi 17,31 persen pada 2025.

Statistisi Ahli Muda BPS Tuban Triana Pujilestari menyebut penyebab utamanya karena bertani tak butuh ijazah.

“Orang-orang tanpa sekolah pun bisa hanya untuk bertani seperti mencangkul atau mencabut rumput. Makanya, sektor ini mendominasi,” ujar Triana.

Rendahnya tingkat pendidikan sebagian warga ikut mendorong mereka kembali ke ladang. Ruang lingkup pertanian yang luas, mulai sawah, perkebunan, ikan hingga ternak juga membuat sektor ini mampu menampung banyak tenaga kerja.

Sementara itu, industri Tuban didominasi padat modal. Mesin dan teknologi canggih jadi ujung tombak produksi, bukan jumlah pekerja.

“Pekerja di sektor industri ini juga diharuskan memiliki keahlian tertentu. Tidak semua orang yang lulus kuliah bisa langsung masuk ke perusahaan industri ini,” jelas Triana.

Berbeda dengan industri padat karya seperti pabrik rokok yang lebih ramah menyerap pekerja lintas latar belakang pendidikan, meski tetap butuh tenaga terampil untuk bagian tertentu.

Di sisi lain, sektor jasa juga ikut merangkak naik. Tahun 2023 menyumbang 40,00 persen tenaga kerja.

Tahun berikutnya naik menjadi 40,41 persen, lalu bertambah ke 40,76 persen pada 2025.

Sektor ini luas, mulai perdagangan, transportasi, akomodasi, hiburan, hingga layanan profesional seperti dokter, guru, dan keuangan.

“Karena bidangnya banyak, sektor jasa ini juga menjadi lapangan usaha yang banyak menyumbang penyerapan tenaga kerja setelah sektor pertanian,” tandas statistisi yang sebelumnya bertugas di BPS Lombok itu.(saf/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#bps #Badan Pusat Statistika #industri #pertanian