Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Daya Beli Melambat, Akademisi Sebut Risiko Citimall Tuban Sulit Bertahan Semakin Besar

Shafa Dina Hayuning Mentari • Selasa, 9 Desember 2025 | 23:41 WIB

 

Ekonomi Tuban melambat, industri stagnan, dan daya beli melemah. Citimall hadir bakal momentum atau manuver berisiko?
Ekonomi Tuban melambat, industri stagnan, dan daya beli melemah. Citimall hadir bakal momentum atau manuver berisiko?

RADARTUBAN – Di tengah kondisi sektor industri yang stagnan dan perekonomian Kabupaten Tuban yang melambat pada triwulan pertama 2025, perlukah Tuban Berdiri Mall?

Karena itu, keputusan Citimall Tuban untuk beroperasi di Bumi Ronggolawe sekarang ini perlu diperdebatkan.

Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS) Tuban, pada triwulan pertama tahun 2025, Tuban mengalami perlambatan dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Pada tiga bulan pertama tahun ini, pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Tuban tercatat 1,59 persen.

Mengalami perlambatan 1,05 persen dari triwulan pertama 2024 yang sebesar 2,64 persen, dengan produk domestik regional bruto yang dihitung atas dasar harga konstan (PDRB ADHK) sebanyak Rp 13,59 triliun.

Sementara itu, perkembangan pekerja di sektor industri besar berskala nasional di Tuban selama tiga tahun terakhir justru mengalami kemerosotan.

Pada 2023 pekerja sektor industri 20,47 persen, menurun di angka 18,23 persen pada tahun 2024, dan semakin merosot menjadi 17,31 pada tahun 2025.

Bahkan, pekerja di Tuban semakin banyak didominasi mereka yang berada di sektor pertanian.

Dosen ekonomi Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban Inarotul A’yun mengatakan, dengan PDRB Tuban yang relatif kecil dan sektor industri yang cenderung stagnan, memang ada tantangan bagi mall baru. Itu karena daya beli masyarakat ter

batas. Namun demikian, kata dia, kehadiran mall tetap bisa menjadi stimulus ekonomi baru.

Misalnya adanya lapangan kerja dan peningkatan aktivitas perdagangan lokal.

Menurut A’yun, sapaannya, kunci utamanya adalah apakah mall mampu menyesuaikan konsep dan toko dengan karakteristik masyarakat Tuban yang didominasi kelas menengah?

Salah satu pertimbangannya, banyak pesaing toko-toko yang lebih murah daripada mall.

‘’Namun, jika mampu menjadi pusat rekreasi dan aktivitas keluarga (mungkin) bukan hanya pusat belanja, CitiMall masih punya peluang untuk berkembang, meski kondisi ekonomi saat ini belum terlalu ekspansif,’’ ujarnya.

Di sisi lain, dia juga menyampaikan tantangan besar pusat perbelanjaan terkait fenomena masyarakat yang cenderung memilih belanja online karena harganya lebih terjangkau, pilihan lebih banyak, dan prosesnya cukup praktis hanya dari rumah.

A’yun mengatakan, untuk bisa bersaing, mall harus menawarkan pengalaman yang tidak bisa diberikan oleh belanja online.

Mulai dari tempat yang bisa menjadi sarana rekreasi, food court yang nyaman, dan hiburan lainnya.

Tak kalah pentingnya, lanjut dia, mall juga harus memerhatikan kondisi ekonomi lokal agar dapat bertahan. Karena daya beli yang terbatas dan persaingan yang ketat dengan toko online, maka mall tidak bisa hanya menawarkan konsep belanja biasa.

Mall, lanjut dia, juga perlu menyesuaikan harga, memilih brand yang relevan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Tuban. Tak kalah pentingnya, menghadirkan fungsi hiburan dan rekreasi keluarga.

‘’Tanpa strategi yang adaptif dengan karakter masyarakat Tuban, risiko mall tidak bertahan lama semakin besar,’’ tegasnya.

Ancaman tidak bertahan lamanya Citimall Tuban, sebagaimana pendapat akademisi ini, merupakan kondisi riil.

Lamongan Plasa, di kabupaten tetangga, misalnya, tak mampu mempertahankan konsep ideal sebuah mall, seperti ketika awal didirikan. Bahkan, di kota besar seperti Surabaya, sejumlah mall gulung tikar.

Di antaranya, City of Tomorrow (Cito), Hi-Tech Mal, dan lainnya.

‘’Jika Citimall mampu memberikan nilai tambah berupa pengalaman dan layanan langsung, maka keberadaannya tetap relevan walaupun tekanan dari e-commerce sangat kuat,” terang lulusan Magister Ekonomi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang itu.

Di sisi lain, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Emonomi (STIE) Muhammadiyah Tuban Hariyanti menyampaikan pendapat senada. Menurut dia, sektor industri yang beberapa tahun terakhir cenderung stagnan juga memengaruhi keberadaan pusat perbelanjaan modern di Bumi Ronggolawe.

‘’Secara teori ekonomi, kondisi tersebut tentu berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Sehingga, potensi belanja di mall tidak langsung optimal sejak awal,” ungkanya.

Yanti, sapaannya, membenarkan kehadiran toko-toko online menjadi tantangan tersendiri bagi pusat perbelanjaan modern. Bukan hanya di Tuban, namun juga di seluruh Indonesia.  ‘’Perilaku masyarakat sekarang cenderung price sensitive, mereka akan datang di awal karena penasaran. Setelah itu, kembali belanja online karena lebih murah dan banyak pilihan,” ujarnya.

Dia mengakui tantangan mall lebih besar karena daya beli masyarakat Bumi Wali relatif moderat. Sehingga, mall tidak bisa hanya mengandalkan tenant fashion dengan harga tinggi. ‘’Mereka juga harus menyediakan F&B yang terjangkau, event lokal, pop-up UMKM, hingga pengalaman yang tidak bisa digantikan oleh belanja online,” ujar,” tandas akademisi yang juga ketua Divisi Inovasi dan Pengembangan Bisnis Iswara Tuban itu.

Yanti menegaskan, ancaman mall tidak bisa berdiri sendiri dan harus menggandeng UMKM lokal, komunitas, hingga sektor jasa agar kehidupan ekonominya lebih stabil, sangat nyata. 

Lebih lanjut dia menyampaikan, mall tetap punya potensi tumbuh. Itu karena mall dan toko online sejatinya melayani kebutuhan yang berbeda.

Toko online lebih unggul pada harga dan kepraktisan. Sementara mall unggul pada pengalaman berbelanja.

Sementara itu, hingga berita ini ditulis pukul 17.30, upaya mendapatkan konfirmasi resmi dari manajemen Citi Mall, khususnya dari Assistant Manager of Creative Marketing and  Sponsorship NWP Property, Kevin Lineria, terkait manuver bisnis yang terkesan nekat ini belum membuahkan hasil.

Dia memohon waktu untuk menjawab pertanyaan wartawan koran ini seputar berdirinya Citimall di tengah kondisi perekonomian yang melambat dan gempuran online shop di Tuban.(saf/ds)

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #bisnis #bps #citimall #akademisi