Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Hadirnya Citimall Tuban di Tengah Ekonomi yang Lesu, Bakal Jadi Ancaman Pelaku UMKM Lokal?

Shafa Dina Hayuning Mentari • Rabu, 10 Desember 2025 | 20:10 WIB
Ekonomi melambat, sektor industri stagnan, Citimall hadir, dampaknya mulai terasa: konsumen terbagi, bioskop bersaing, UMKM terdesak.
Ekonomi melambat, sektor industri stagnan, Citimall hadir, dampaknya mulai terasa: konsumen terbagi, bioskop bersaing, UMKM terdesak.

RADARTUBAN – Perdebatan perlukah Tuban berdiri mall di tengah kondisi sektor industri di  Bumi Ronggolawe yang stagnan dan perekonomian yang melambat pada triwulan pertama 2025, kian melebar.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Muhammad Makro Maarif Sulaiman mengatakan, hadirnya Citimall di Tuban berpotensi menyebabkan terjadinya ledakan kunjungan dan masyarakat cenderung fomo (fear of missing out) sebagai reaksi atas hadirnya brand baru.

Menurut dia, konsumsi masyarakat Tuban tidak hanya digerakan dari rasa ingin tahu, namun juga dari naiknya kebutuhan kelas menengah dan kebutuhan ruang rekreasi yang lebih terorganisir.

‘’Saat ini, pertanyaannya bukan ramai atau tidak, namun apakah keberadaan mall tersebut mampu menjawab pola konsumsi masyarakat lokal dalam jangka panjang?” katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Sulaiman, sapaannya, menyampaikan, keberadaan mall harus menjadi sebuah ruang sosial untuk masyarakat Tuban jika ingin bertahan.

Seperti untuk tempat nongkrong, bekerja, dan refreshing selain sekadar untuk berbelanja.

‘’Bila Citimall gagal membaca ritme hidup warga Tuban, mereka akan kesulitan untuk bertahan setelah melewati fase awal antusiasme masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menyampaikan, dalam jangka panjang, hadirnya mall pertama juga bisa menjadi pertanda buruk.

Perubahan orientasi warga di daerah pesisir Laut Jawa itu dari pola belanja utilitarian yang didorong oleh pertimbangan praktis, fungsional, dan rasional menjadi ke pola konsumsi yang lebih simbolik.

Yakni belanja bukan sekadar membeli barang, namun juga membangun citra diri.

Alumnus magister sosiologi UGM ini menyebut, bukan mall-nya yang menentukan keberlanjutan, namun apakah mall tersebut mampu menjadi bagian dari kehidupan sosial-ekonomi di Tuban.

Sulaiman menyebut beragamnya dampaknya ke masyarakat.

Mulai terbukanya sektor pekerjaan, hadirnya kenyamanan dalam ruang publik, dan naiknya standar pelayanan. Perubahan inilah yang dinilai akademisi ini menandai status sosial dan cara mengisi waktu luang.

‘’Hal yang juga harus dipertimbangkan adalah dampak terhadap sektor UMKM dari hadirnya mall. Apakah sebagai ancaman atau justru menjadi peluang untuk networking ekonomi,” tegasnya.

Mengacu dalam logika Marx, Sulaiman menilai, keberlangsungan Citimall tidak hanya ditentukan oleh minat masyarakat, namun juga apakah mall mampu mengubah dan mengunci hubungan produksi di Tuban.

‘’Jika iya, mall akan bertahan. Namun, jika tidak, dia akan gagal seperti pabrik yang tidak mencapai surplus,” kata dia.

Apakah berdirinya Citimall yang grand opening-nya diagendakan Kamis (18/12) jadi ancaman serius bagi swalayan, toko, tenant, dan UMKM?

Direksi Swalayan Samudra Tuban, Hendry Setyabudi memastikan pengaruhnya. Hanya saja, dia tidak menjelaskan secara detail sejauhmana impact-nya.

‘’Daya beli konsumen tentunya akan terbagi,’’ ujarnya. Khususnya, kata dia, tenant dan toko yang memiliki kesamaan brand dan kesamaan jenis produk yang melantai di Citimall. Bahkan, sebelum Citimall beroperasi, Hendry merasakan beberapa bulan ini daya beli konsumen swalayannya menurun.

Irw, inisial pengelola swalayan lain di Tuban memprediksi tiga bulan pertama berdirinya Citimall pasti berpengaruh terhadap pasar swalayan, tenant, dan toko di Tuban.

‘’Selanjutnya konsumen akan membentuk diferensisasi dalam berbelanja,’’ ujarnya.

Sementara itu, hadirnya bioskop XXI di Citimall Tuban diprediksi akan mengubah peta persaingan bisnis layar lebar di Tuban.

Manager New Star Cineplex (NSC) Tuban Inti Yuwono menyatakan harus berlapang dada untuk berbagi penonton dengan XXI.

“Pastinya dengan kehadiran XXI di Citimall akan mengurangi pasar bioskop lokal, konsumen kami jelas akan terbagi,” katanya.

Menurut dia, NSC tidak bisa bersaing dari segi promo.

Sebab, dari segi film maupun harga tiket yang ditawarkan tidak jauh berbeda, bahkan bisa sama.

Karena itu, jika menerapkan strategi menarik konsumen dengan cara promo, maka XXI diprediksi akan melakukan hal yang sama.

Intiong sapaanya mengaku, pihaknya tidak bisa berkutik dengan hadirnya pesaing di dunia jasa layanan penyedia film. Sebab, XXI bukan lagi jaringan perfilman lokal, melainkan internasional.

‘’Jadi kami hanya bisa mengikuti XXI seperti apa, selebihnya kami tidak bisa melawan atau menolak kehadiran mereka,” lanjutnya.

Sejauh ini di kota-kota lain, kata dia, terdapat NSC dan XXI secara bersamaan.

Namun demikian, tidak ada persaingan yang membuat salah satunya merugi hingga berujung gulung tikar. 

‘’Jadi persaingan NSC dengan dengan XXI termasuk sehat, tidak ada indikasi saling menjatuhkan,” tambahnya.

Meski sempat kecewa dengan masuknya XXI di Tuban, Intiong menyadari, bahwa pihaknya tidak bisa membatasi pesaing yang masuk Tuban. Alih – alih terpuruk, pihaknya justru melihat hal ini juga sebagai peluang tumbuh menjadi lebih besar lagi.

Hingga berita ini ditulis pukul 16.27, upaya mendapatkan konfirmasi dari pihak managemen Citimall melalui Assistant Manager of Creative Marketing and Sponsorship NWP Property Kevin Lineria, lagi-lagi tidak membuahkan hasil.

Dia menjanjikan jawaban sejak Senin (8/11) pukul 16.37. Namun, pertanyaan wartawan koran ini tidak kunjung terjawab.

"Sebentar, kami kirimkan jawabannya, ya," jawab Kevin ketika dikonfirmasi ulang kemarin (9/12) pukul 14.53.

Seperti diberitakan sebelumnya, perdebatan perlukah Tuban berdiri mall berorientasi pada data Badan Pusat Statistik (BPS) Tuban.

Pada triwulan pertama tahun 2025, Tuban mengalami perlambatan dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Pada tiga bulan pertama tahun ini, pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Tuban tercatat 1,59 persen.

Mengalami perlambatan 1,05 persen dari triwulan pertama 2024 yang sebesar 2,64 persen, dengan produk domestik regional bruto yang dihitung atas dasar harga konstan (PDRB ADHK) sebanyak Rp 13,59 triliun.

Sementara itu, perkembangan pekerja di sektor industri besar berskala nasional di Tuban selama tiga tahun terakhir justru mengalami kemerosotan.

Pada 2023 pekerja sektor industri 20,47 persen, menurun di angka 18,23 persen pada tahun 2024, dan semakin merosot menjadi 17,31 pada tahun 2025. Bahkan, pekerja di Tuban semakin banyak didominasi mereka yang berada di sektor pertanian.

Dosen ekonomi Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban Inarotul A’yun mengatakan, dengan PDRB Tuban yang relatif kecil dan sektor industri yang cenderung stagnan, memang ada tantangan bagi mall baru.

Dia juga menyampaikan tantangan besar pusat perbelanjaan terkait fenomena masyarakat yang cenderung memilih belanja online karena harganya lebih terjangkau, pilihan lebih banyak, dan prosesnya cukup praktis hanya dari rumah.

Sementara itu, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Emonomi (STIE) Muhammadiyah Tuban Hariyanti mengatakan, sektor industri yang beberapa tahun terakhir cenderung stagnan berpotensi memengaruhi keberadaan pusat perbelanjaan modern di Bumi Ronggolawe.

‘’Secara teori ekonomi, kondisi tersebut tentu berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Sehingga, potensi belanja di mall tidak langsung optimal sejak awal,” ungkapnya. (saf/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #universitas gadjah mada #UMKM #laut jawa #citimall