RADARTUBAN – Dalam beberapa tahun terakhir ini, angka pernikahan di Kabupaten Tuban terus mengalami penurunan.
Selain diprediksi karena perubahan batas usia minimal yang diatur dalam Undang-Undang Perkawinan, juga perubahan paradigma dalam memandang perkawinan.
Berdasar data yang tercatat di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Tuban, tren penurunan angka pernikahan yang tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA) ini mulai terlihat sejak lima tahun terakhir.
Tepatnya dimulai pada 2020. Hanya saja, sempat naik pada 2022. Sebagaimana data yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Tuban, angka pernikahan di Kota Legen pada 2020 tercatat sebanyak 9.379 pasangan.
Kemudian turun menjadi 9.068 pasangan pada 2021, dan sempat naik lagi menjadi 9.255 pasangan di 2022. Lalu, setelah itu konsisten turun.
Pada 2023 hanya tercatat sebanyak 8.766 pasangan dan 2024 turun menjadi 8.174 pasangan. Sementara itu, untuk tahun ini, hingga Mei lalu, baru tercatat sebanyak 2.876 pasangan yang menikah.
Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan sosial terbesar yang dialami anak muda bukan lagi soal belum menikah.
Pertanyaan klasik seperti “Kapan nikah?” yang dulu kerap menyudutkan kaum lajang, terutama perempuan, kini perlahan kehilangan daya tekan.
Ada perubahan besar dalam pola pikir generasi muda: mereka lebih takut terjebak dalam kemiskinan dan ketidakstabilan finansial dibandingkan hidup tanpa pasangan.
Fenomena ini tak lepas dari realitas ekonomi yang kian menekan.
Biaya hidup semakin tinggi, harga kebutuhan pokok melambung, dan peluang pekerjaan tidak selalu stabil.
Banyak anak muda melihat pernikahan sebagai beban finansial ganda—mulai dari biaya hajatan hingga kebutuhan rumah tangga—sehingga memantapkan pilihan untuk menunda menikah.
Tren ini juga diperkuat oleh berbagai pengalaman yang mereka lihat dalam lingkungan terdekat.
Banyak generasi muda tumbuh dengan menyaksikan tekanan ekonomi dalam keluarga, seperti orang tua yang bekerja tanpa henti, cicilan tak pernah selesai, hingga beban biaya pendidikan.
Kondisi itu membentuk ketakutan baru: hidup miskin lebih menakutkan daripada hidup sendiri.
Penelitian Tirta dan Arifin (2025) dalam jurnal Studi Fenomenologi: Marriage is Scary pada Generasi Z menegaskan hal ini. Dalam kajian tersebut, meningkatnya penggunaan media sosial, cerita-cerita tentang tantangan pernikahan, serta tuntutan pendidikan dan karier menjadi faktor dominan yang mendorong generasi muda menunda menikah.
Nilai-nilai masyarakat juga berubah: hubungan tanpa pernikahan atau pacaran jangka panjang kini makin diterima sebagai pilihan hidup yang sah di mata publik.
Meski begitu, tidak semua generasi muda memiliki preferensi yang sama.
Masih ada kelompok yang memilih menikah lebih cepat, didorong oleh keinginan membangun keluarga, pengaruh lingkungan sosial, serta nilai-nilai tradisional yang mereka anut.
Bagi mereka, pernikahan menawarkan stabilitas emosional dan sosial di tengah dunia yang penuh ketidakpastian. Ada pula yang melihat menikah muda sebagai langkah awal untuk menata kehidupan ideal bersama pasangan.
Dalam beberapa budaya lokal, pernikahan tetap dipandang sebagai pencapaian penting dalam hidup.
Hal ini menumbuhkan dorongan bagi sebagian anak muda untuk menikah sebelum usia matang, baik karena tuntutan keluarga maupun nilai-nilai yang diwariskan secara turun-temurun.
Fenomena ini akhirnya menciptakan dua kutub pemikiran dalam satu generasi.
Satu kelompok mengutamakan stabilitas finansial, perkembangan karier, dan pencarian jati diri sebelum memutuskan menikah.
Kelompok lainnya justru menganggap menikah muda sebagai jalan memperkuat ikatan emosional dan menatap masa depan secara bersama. (saf/yud)
Mengapa Anak Muda Takut Menikah?
- Biaya hidup yang terus meningkat, mulai dari perumahan, makanan, pendidikan, hingga kesehatan.
- Pengalaman melihat tekanan ekonomi dalam keluarga, membuat mereka tidak ingin mengulang pola yang sama.
- Pergeseran nilai dan prioritas hidup, di mana stabilitas finansial dinilai lebih penting daripada status pernikahan.
- Biaya pernikahan dan berkeluarga yang tidak murah, dari hajatan hingga kebutuhan anak.
- Ketidakstabilan pekerjaan, terutama di tengah persaingan kerja yang ketat dan perubahan industri.
- Keinginan untuk fokus pada karier dan pendidikan, sebelum membangun keluarga.
Data Pernikahan Kabupaten Tuban (2020–2025)
| Tahun | Jumlah Pasangan Menikah | Keterangan Tren |
| 2020 | 9.379 pasangan | Mulai terlihat penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya |
| 2021 | 9.068 pasangan | Turun 311 pasangan dari 2020 |
| 2022 | 9.255 pasangan | Sempat naik 187 pasangan |
| 2023 | 8.766 pasangan | Kembali turun signifikan |
| 2024 | 8.174 pasangan | Tren penurunan berlanjut |
| 2025 (hingga Mei) | 2.876 pasangan | Data sementara |
*berdasarkan pencatatan KUA di bawah Kemenag Tuban
Editor : Yudha Satria Aditama