Ditolak Masuk Yerusalem karena Nama Mirip Amrozi
Penyebaran Islam menempuh jalan panjang menyusuri gurun, menyeberangi laut, hingga bergerak melampaui batas geografis negara. Bagaimana agama Allah membentuk peradaban dan meninggalkan jejak yang masih terasa hingga sekarang? Serombongan ulama dari Jatim menelusurinya dalam Perjalanan Napak Tilas di Bumi Para Nabi di Mesir, Palestina, dan Yordania selama 10 hari (7-17 Desember). Berikut catatan perjalanan H. Khafid, ulama Singgahan, Tuban yang mengikuti penelusuran sejarah tersebut yang diceritakan kepada wartawan Jawa Pos Radar Tuban, Dwi Setiyawan. Tulisan dimulai dari Yerusalem, Palestina.
MASUK wilayah kota tua Yerusalem bukan perkara mudah. Ketegangan politik membuat pengamanan di kota suci bagi umat Islam, Kristen, dan Yahudi itu berada dalam kendali penuh Israel.
Khafid bersama rombongan yang berjumlah 31 orang masuk Yerusalem melalui Taba Border, perbatasan internasional antara Mesir dan Israel.
Ini merupakan pintu masuk menuju Yerusalem setelah perjalanan yang digagas Forum Komunikasi Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (FK KBIHU) Jatim itu selama lima hari (7-12 Desember) di Kairo, Mesir.
Kepastian bisa melanjutkan perjalanan atau sebaliknya mengubah arah perjalanan, memang ditentukan di Taba Border.
Bayangan sulitnya menembus Yerusalem sudah diketahui seluruh anggota rombongan yang sebagian besar kiai. Termasuk informasi tidak sedikitnya peziarah yang gagal masuk hanya karena satu kesalahan kecil.
Profesor Ghofur, tour leader yang menyertai sejak dari Jakarta, memberi arahan tegas kepada anggota rombongan. Mereka yang mahir bahasa Arab diminta tidak mengucapkannya. Begitu juga yang fasih berbahasa Inggris.
Di hadapan petugas imigrasi Israel, seluruh rombongan diminta bersikap sebagai orang awam. ‘’Saya malah menggunakan bahasa Jawa,’’ tutur Khafid menceritakan ketegangan pemeriksaan petugas Imigrasi Israel itu.
Anggota rombongan juga sudah memastikan tidak ada atribut berbau Palestina pada pakaian maupun barang yang dibawa. Termasuk surban Palestina bermotif kain kotak-kotak hitam-putih yang identik dengan Yasser Arafat.
Selama wawancara, mereka juga meyakinkan kalau tidak memiliki kerabat maupun teman di Yerusalem.
Ya, di perbatasan Mesir–Israel, nama bisa menjadi masalah. Bahasa bisa menjadi jebakan. Bahkan, sebuah kain di kepala dapat mengubah arah perjalanan.
Rombongan ulama dari Jawa Timur itu mengetahuinya sejak awal. Karena itu, ketika giliran pemeriksaan tiba, mereka memilih diam, menunduk, dan mengikuti isyarat tangan petugas di Taba Border.
Saking ketatnya, smartphone rombongan tidak luput dari pemeriksaan. Dengan kemampuan information technology-nya, petugas Imigrasi Israel bisa melacak jejak digital smartphone yang mendukung pergerakan Palestina maupun sayap pergerakannya.
Meski hal sekecil apa pun sudah diantisipasi, satu anggota rombangan FK KBIHU tetap tercekal masuk Yerusalem.
Anggota berstatus rejected atau ditolak itu bernama Fatchur Rozi. Belakangan diketahui penolakan tersebut karena nama Rozi mirip dengan Amrozi, salah satu otak bom Bali pada 2002 yang disebut-sebut ber-manhaj khawarij dan anti-Barat yang didukung organisasi bawah tanah Jemaah Islamiyah.
Meski tour guide yang mendampingi dari Kairo berusaha meyakinkan bahwa Rozi tidak terafiliasi dengan pria asal Tenggulun, Solokuro, Lamongan itu, petugas imigrasi tetap kukuh menolak.
Karena tertolak masuk Yerusalem, istri Rozi sempat berencana mengikuti suaminya. Kalau rencana itu diputuskan, konsekuensinya jauh lebih fatal: seluruh rombongan malah tidak diizinkan masuk kota berjuluk Al-Quds itu.
Setelah berunding, Rozi memutuskan mengalah. Dia siap diantar menuju Jordan. Di negara monarki itulah dia menunggu istri dan rombongan yang masih menuntaskan lawatan di Yerusalem selama empat hari.
Status rejected masuk kota tua warisan dunia tersebut mengingatkan nama Ali Nurdin, salah satu rombongan ulama dari tanah air yang pekan sebelumnya berziarah.
Nama ulama tersebut dianggap memiliki afiliasi dengan Noordin Mohammad Top, warga Malaysia yang mendalangi sejumlah aksi teror di Indonesia.
Setelah lolos di perbatasan Taba-Israel, rombongan masih menempuh perjalanan selama empat jam menuju kompleks Al Aqsa. Ketegangan masih terasa ketika masuk wilayah Al-Alqsa yang luasnya kurang lebih 14 hektare.
Khafid menceritakan, begitu masuk pintu gerbang Al-Aqsa, rombongan melintasi lorong sepanjang 200 meter di kawasan permukiman. Di sepanjang lorong tersebut, bertebaran pasukan yang sebagian besar perempuan bersenjata laras panjang otomatis. Prajurit-prajurit berusia belia itu berwajah angker dengan mata penuh selidik.
Ketegangan dan kecemasan itu terbayar lunas setelah rombongan masuk Masjid Al-Alqsa pada esok harinya, Sabtu (13/12).
Di masjid yang pernah menjadi kiblat pertama umat muslim sebelum Allah memerintahkan perubahan ke Kakbah, Makkah itulah, Khafid dan rombongan melihat langsung batu Sakhrah untuk pertama kalinya.
Batu yang bentuknya tidak beraturan itu letaknya sekitar 1,5 meter dari permukaan lantai masjid yang di atasnya ditutup kubah emas. Di bawah batu inilah terdapat sebuah gua.
Selama ini, Khafid dan semua rombongan hanya mendapat cerita tentang batu yang dijadikan pijakan Nabi Muhammad SAW ketika hendak naik ke langit ketujuh dalam peristiwa Isra dan Mikraj itu.
‘’Alhamdulillah, begitu masuk, saya dan rombongan langsung salat sunah dua rakaat di masjid ini,’’ ujar ketua KBIHU Ar-Raudloh, Singgahan, Tuban itu.
Selama di kompleks Masjid Al-Aqsha, Khafid dan rombongan juga mengunjungi Masjid Al Buroq, Masjid Al Marwani, Masjid Al Magharibah, dan Masjid An Nisa, dan Tembok Ratapan.
Juga berziarah ke makam Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq, Nabi Yaqub, Nabi Yusuf, Nabi Adam, Nabi Sam, Nabi Nuh, dan sejumlah makam sahabat rasul. Napas tilas selanjutnya ke Masjid Al Qibli yang juga di kompleks Masjid Al Aqsa.
Mengutip ulasan sejarah tour guide masjid setempat, Khafid menerangkan, masjid berkubah besar seperti peluru berwarna hitam yang terbuat dari kayu di sisi dalamnya dan dilapisi timah itu didirikan Khalifah Umar bin Khathab ketika datang untuk membebaskan Masjid Al Aqsha pada tahun 15 H/636 M.
Ketika hendak mendirikan tempat salat, seorang uskup yang menemuinya menyarankan sebaiknya menghadap ke batu Sakhrah. Pertimbangannya, dapat menghimpun kiblat Nabi Musa dan Nabi Muhammad. Namun, Khalifah Umar menolak usul tersebut.
Dia kemudian melempar batu ke utara masjid. Tempat jatuhnya batu itulah yang kemudian didirikan Masjid Al Qibli yang menghadap Kakbah.
Tiga hari di kota tua yang juga dikenal dengan nama Baitulmaqdis itu, Khafid dan rombongan benar-benar memanfaatkan waktu untuk beribadah.
Dekatnya jarak hotel tempat mereka menginap dengan Masjid Al Aqsa, memberi kesempatan mereka untuk datang ke masjid yang baru dibuka 30 menit sebelum azan itu.
‘’Kita bisa tiga kali salat subuh. Untuk salat magrib dan isya, dua kali,’’ ujar training of trainer (TOT) pembekalan manasik haji itu.
Khafid mengatakan, kedatangannya bersama rombongan di Masjid Al Aqsa bukan sekadar napak tilas Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW, namun juga memiliki makna spiritual mendalam untuk meningkatkan keyakinan dan keimanan.
Sekaligus memperteguh pengakuan bahwa Masjid Al Aqsa dan area di sekitarnya adalah bagian dari peradaban sejarah Islam.
Karena tiga keturunan bangsa Palestina dilarang masuk, maka umat Islam di seluruh dunia harus mengunjungi. Termasuk dari Indonesia. ‘’Pengakuan dan penegasan ini penting agar Masjid Al Aqsa tidak diambil alih dan dikuasai umat agama lain,’’ ujarnya.(*/bersambung)
Editor : Dwi Setiyawan