Pengawal Senyap dengan Senapan Otomatis di Balik Jas
Tidak ada yang berubah di Cairo International Airport (CAI).
Begitu kesan pertama H. Khafid saat kembali menginjakkan kaki di Mesir, Minggu (7/12) petang. Bandara tetap sama. Pelayanan imigrasi juga tak jauh beda sejak kunjungan pertamanya pada 2006. Yang berubah justru setelah keluar pintu bandara. Seorang pria berjas gelap langsung naik ke bus rombongan untuk mengawal. Seperti apa pengamanan melekat tersebut? Berikut lanjutan catatan perjalanan H. Khafid, ulama Singgahan, Tuban yang mengikuti Perjalanan Napak Tilas di Bumi Para Nabi yang diceritakan kepada wartawan Jawa Pos Radar Tuban, Dwi Setiyawan.
JAS yang dikenakan petugas itu sangat stylish. Warnanya gelap dengan kerah kiri menempel pin logo kesatuan.
Hanya saja, pakaian formal model Eropa itu sengaja tak dikancing untuk menutupi senapan lipat otomatis yang ditenteng di bagian dalam lengan kanan.
Ketika berjalan, sesekali moncong senapan itu menyembul. Selama mengawal, pria berbadan tegap itu tak pernah berbicara sepatah kata pun.
‘’Saya sempat mencoba mengakrabinya dengan memberikan salam, Assalamualaikum,’’ ujar Khafid.
Dia sudah menduga responsnya bakal dingin. Benar, petugas itu menjawab sangat lirih dan nyaris tak terdengar. Itu pun mulutnya terbuka sedikit.
Sepanjang perjalanan, pasukan pengawal itu tak pernah senyum. Ekspresinya datar. Sekali waktu, matanya menatap tajam penuh selidik.
Petugas itu menghilang setelah seluruh anggota rombongan FK KBIHU Jatim masuk kamar hotel.
Paginya, sebelum rombongan melanjutkan perjalanan, petugas itu sudah bersiaga di pintu masuk bus dan kembali mengawal.
Selama perjalanan hingga mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Mesir, dia menempel ketat.
Muncul guyonan dari sejumlah anggota rombongan kalau petugas itu baru mengabaikan mereka ketika masuk toilet.
Entah, apa yang membuat rombongan napak tilas mendapat pengawalan ekstra ketat.
Muncul sejumlah spekulasi terkait diterjunkannya personel pengamanan tersebut. Salah satunya dikaitkan dengan Resolusi Mesir 2011 yang dipicu gejolak sosial politik. Setelah insiden tersebut, Mesir di bawah kendali kuat militer.
Mulanya, seluruh anggota rombongan tak nyaman dengan kehadiran personel pengamanan yang seolah-olah memata-matai itu. Sebagian di antara mereka akhirnya terbiasa, meski sedikit kikuk.
Setelah mengunjungi Giza Pyramid dan Sphinx di kompleks Nekropolis Giza, Dataran Tinggi Giza, Kairo, rombongan masuk Egyptian Museum.
Di museum inilah, mereka baru menyadari sepenuhnya kalau kehadiran pengawal membatasi ekspresi.
Itu bermula ketika sejumlah anggota rombongan spontan meletupkan emosi begitu melihat mumi Ramses II yang diyakini merupakan Firaun, Raja Mesir kuno yang mengaku Tuhan.
Raja lalim berikut pasukannya inilah yang ditenggelamkan Nabi Musa di Laut Merah. ‘’Saking emosinya, kita hampir mau meludahinya, tapi akhirnya urung setelah sadar di belakang ada kawalan,’’ ujar santri Ponpes Al-Wahdah Lasem, Rembang itu.
Khafid mengungkapkan, mumi yang terbaring di atas meja itu hanya tertutup kain putih pada bagian pusar hingga lulut. Karena itu, dia bisa menggambarkan sosok raja yang dikenal kejam itu kala hidup.
Di museum yang sama, anggota rombongan justru menyanjung dan tidak sedikit mengirim doa kepada Asiyah, istri Firaun II. Dialah yang menolong sekaligus mengasuh Nabi Musa saat ditemukan hanyut di Sungai Nil.
Dengan melihat langsung jasad Firaun yang telah diawetkan, berarti lengkap sudah jejak peradaban agama Allah di zaman Romawi kuno yang ditelusuri Perjalanan Napak Tilas di Bumi Para Nabi. Itu karena Senin (15/12), rombongan ini ziarah ke makam Nabi Musa AS di Kota Yerikho, Yerusalem, Palestina.
Selama di Yordania, rombongan juga memanfaatkan ziarah ke makam Nabi Daniel, Nabi Harun, dan Nabi Saleh.
Juga berziarah di peristirahatan terakhir aulia Imam Syafii, El Sayda Zainab, dan El Moursi Abu Abbas.
Berikutnya, salat sunah dan salat fardu di sejumlah masjid yang merupakan bagian dari sejarah peradaban Islam. Antara lain, Masjid Salah El Din Citadel, Masjid Mohamed Ali, Masjid Amr Ibn Elas, serta Masjid Imam Hussein.
Perjalanan spiritual napak tilas itu berakhir di Yordania. Khafid mengungkapkan, negara beribu kota di Amman itu tidak terlalu ketat mengawasi wisatawan. Terbukti, pemeriksaan petugas imigrasi di Border Allenby, wilayah perbatasan darat Tepi Barat (Palestina) dengan Yordania itu, berjalan lancar.
Pintu gerbang internasional ini merupakan akses utama bagi warga Palestina di Tepi Barat untuk bepergian ke Yordania tanpa melewati Israel.
Begitu memasuki Yordania, rombongan ulama langsung mengunjungi Laut Mati. Tempatnya di lembah retakan Sungai Yordan, perbatasan Israel, Palestina, dan Yordania.
Laut Merah merupakan titik terendah di permukaan bumi, sekitar -417,5 meter di bawah permukaan laut (DPL). Sesuai namanya, laut itu benar-benar mati.
Khafid menceritakan, tak satu satwa maupun tumbuhan yang hidup di laut tersebut. ‘’Air laut yang kita raup dengan tangan langsung berubah jadi garam dalam hitungan menit,’’ ujar ulama kelahiran 17 Desember 1961 itu.
Begitu juga kala berenang, tidak akan tenggelam. Selama berada di Laut Mati, Khafid teringat azab dahsyat Allah yang diturunkan kepada kaum Nabi Luth yang menjalani kehidupan penyimpangan seksual.
‘’Allah Ta'ala membalikkan tanah yang berada di negeri itu sehingga tanah yang berada paling bawah terbalik menjadi berada di paling atas,’’ ungkapnya mengutip QS. Asy-Syu'ara ayat 160-168.
Kunjungan berikutnya di Kota Petra, Selasa (16/12). Kota ini dikenal sebagai bangsa Nabath. Kehebatan bangsa ini yang masuk dalam salah satu dari tujuh keajaiban dunia itu adalah membangun gedung dan patung dari batu gunung yang utuh.
Sebelum menyudahi napak tilas, rombongan singgah di Gua Ashabul Kahfi, Amman, Rabu (17/12).
Gua yang diabadikan dalam Surah Al-Kahfi. Disebutkan, Allah menidurkan tujuh pemuda beriman dan seekor anjing selama ratusan tahun (sekitar 309 tahun) untuk menjaga iman mereka dari kejaran raja zalim.
“Peristiwa mukjizat ini untuk menjaga keimanan mereka, sebelum akhirnya terbangun Kembali. Ini menjadi simbol keteguhan iman dan kebesaran Allah,” ujar Khafid mengutip penjelasan Profesor Imam Ghazali Said, tour leader.
Napak tilas berakhir di Uyun Musa, Sumur Nabi Musa di Semenanjung Sinai, Mesir. Di sinilah, rombongan ulama melihat dan menyentuh sebongkah batu dengan 12 mata air di bawahnya. Konon, air suci itu keluar setelah dipukul tongkat Nabi Musa untuk memberi minum Bani Israil yang kehausan. Di tempat-tempat itulah, jejak para nabi ditelusuri. Dalam senyap dan doa.(*)
Editor : Dwi Setiyawan