RADARTUBAN-Pesan Kongzi tentang pentingnya belajar sebelum berpikir menjadi landasan utama pelaksanaan Diklat Agama Konghucu (DAK) Jawa Timur 2025 yang digelar di Tempat Ibadah Tri Darma (TITD) Kwan Sing Bio Tuban, Kamis (25/12).
Kegiatan ini merupakan upaya strategis memperkuat pemahaman ajaran agama sekaligus membangun karakter generasi muda agar terhindar dari penafsiran yang keliru.
Sebanyak 65 umat Konghucu dari berbagai daerah di Jawa Timur mengikuti diklat tersebut sejak pukul 10.00 WIB.
Dari jumlah itu, 16 peserta berasal dari Tuban sebagai tuan rumah. Peserta dibatasi usia minimal 17 tahun dengan sasaran kelompok usia produktif yang dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan kerukunan umat beragama.
Ketua Panitia DAK Jawa Timur 2025 Septiawan mengatakan, kegiatan ini bertujuan menyamakan pemahaman umat agar praktik keagamaan dijalankan sesuai dengan ajaran dan literatur yang benar.
"Kami ingin umat menjalankan ibadah sesuai dengan kitab suci dan apa yang seharusnya dilakukan. Tanpa belajar, pemikiran seseorang bisa menjadi liar dan membahayakan diri sendiri maupun lingkungan. Inilah mengapa kami mengundang umat masuk ke dalam kelas ini untuk belajar dengan lebih dalam," tegas Septiawan.
Pandangan serupa disampaikan Alim Sugiantoro, tokoh kelenteng setempat. Dia menilai pembentukan karakter generasi muda menjadi aspek penting dalam menjaga harmoni sosial.
Menurut dia, pemahaman agama yang baik dapat menjadi fondasi dalam menyelesaikan perbedaan secara damai, baik di lingkungan organisasi maupun masyarakat.
"Pendidikan generasi muda kita belum mantap. Lewat diklat ini, mereka diajarkan kembali tentang sopan santun, cara menghargai orang tua, dan penyelesaian masalah secara damai. Jika terjadi gesekan, mereka harus sadar bahwa ada tata krama yang harus dipatuhi. Agama harus diresapi dengan benar agar kerukunan bisa tetap terjaga," ungkap Alim.
Alim berharap diklat keagamaan yang kembali digelar setelah sekian lama vakum ini dapat mendorong generasi muda untuk terus memperdalam ajaran agama sehingga tumbuh sikap saling menghargai. ‘’Jika bisa salig memghargai, potensi terjadinya konflik akan lebih kecil,” pungkasnya.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tuban Umi Kulsum menyampaikan apresiasi atas inisiatif umat Konghucu dalam melakukan pembinaan internal. Menurutnya, langkah tersebut berkontribusi positif terhadap terciptanya kehidupan beragama yang harmonis di Tuban.
"Kami sangat bersyukur. Kegiatan yang melibatkan antarumat ini menunjukkan bahwa kehidupan beragama di Tuban sudah sangat baik. Tugas kita sekarang adalah meningkatkannya," ujar Umi setelah acara.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat Tri Kerukunan Umat Beragama, lanjut dia, Kemenag Tuban juga terus mendorong berbagai kegiatan lintas iman, di antaranya program resik-resik rumah ibadah yang melibatkan masjid, gereja, dan klenteng, serta rencana penyelenggaraan jalan kerukunan umat beragama. ‘’Rencananya juga akan melibatkan seluruh tokoh lintas agama dan umatnya untuk semakin mempererat tali persaudaraan,” ujarnya.
Melalui diklat ini, dia berharap pemahaman agama tidak berhenti pada aspek ritual semata, namun juga tercermin dalam sikap saling menghormati dan hidup berdampingan di tengah keberagaman masyarakat di Bumi Ronggolawe.
Hadir juga pada kegiatan diklat tersebut, Kepala Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia Pusat Xs Ir Budi Santoso Tanuwibowo, dan perwakilan manajemen pengelola kelenteng Sujanto dan Ratna Sari.(*)
Editor : Dwi Setiyawan