Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Refleksi dan Doa Bersama di Malam Tahun Baru, Momentum Menanamkan Kembali Tradisi Bangsa Ini

Ahmad Atho’illah • Sabtu, 3 Januari 2026 | 16:35 WIB
Malam pergantian tahun yang diperingati Pemkab Tuban dengan kegiatan refleksi dan doa bersama di Alun-Alun Tuban, Rabu (31/12).
Malam pergantian tahun yang diperingati Pemkab Tuban dengan kegiatan refleksi dan doa bersama di Alun-Alun Tuban, Rabu (31/12).

RADARTUBAN- Tanpa ataupun adanya bencana hidrometeorologi yang menimpa saudara kita di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya di Sumatera, perayaan tahun baru 2026 yang diisi dengan kegiatan doa bersama dan refleksi akhir tahun, adalah momentum yang tepat untuk menandai perayaan malam pergantian tahun dengan penuh makna.

Dalam sebuah diskusi ringan, Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Tuban, Joyo Juwoto mengatakan, jika ditelisik lebih jauh—sebelum budaya barat masuk Nusantara, tirakatan adalah salah satu tradisi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa—dalam menyambut hari besar atau peristiwa penting.

Namun, seiring zaman yang terus berkembang modern, tradisi yang menjadi ciri khas masyarakat Jawa itu mulai dilupakan. Diganti dengan tradisi barat.

"Tirakat itu berasal dari bahasa Arab: taroka, yang artinya meninggalkan hal-hal negatif dan thoriqoh, yang artinya menuju Tuhan. Ini adalah tradisi masyarakat Jawa dalam menandai peristiwa penting. Tradisi ini biasanya kita jumpai saat menyambut HUT Kemerdekaan, meski terkadang malah dimaknai dengan acara makan-makan, tapi setidaknya masih ada kegiatan refleksinya,’’ kata Mbah Joyo—sapaan akrabnya.

Semestinya, terang Mbah Joyo, malam tirakatan juga berlaku untuk menandai peristiwa-peristiwa penting, seperti halnya malam pergantian tahun. Karena itu, tegas budayawan cum penulis itu, peringatan malam pergantian tahun 2026 di banyak daerah yang diisi kegiatan refleksi dan doa bersama—sebagai bentuk empati dan solidaritas atas bencana yang menimpa saudara sebangsa beberapa wilayah, khususnya di Sumatera, adalah momentum yang tepat untuk mengingat dan mananamkan kembali tradisi bangsa ini.

Sayangnya, terang Mbah Joyo, masyarakat Indonesia mudah lupa dengan peristiwa yang telah terjadi. Ketika bencana alam yang melanda sejumlah daerah di Indonesia sudah berlalu, maka yang sering terjadi—berlalu pula ingatan masyarakat Indonesia atas peristiwa yang telah terjadi.

"Ada atau pun tidak adanya sebuah bencana, sudah sepatutnya momen pergantian tahun diperingati dengan kegiatan refleksi dan doa bersama, yang merupakan bagian dari tradisi tirakatan bangsa ini,’’ ujarnya. Karena itu, tegas dia, kegiatan refleksi dan doa bersama menjelang pergantian tahun ini patut menjadi tradisi tahunan, ‘’sebab, bangsa yang besar adalah bangsa memegang teguh budaya dan tradisi bangsanya sendiri,’’ tandasnya.

Di Tuban, sebagai bentuk empati terhadap korban bencana hidrometeorologi, pada malam pergantian tahun baru, Rabu (31/12) lalu, Pemkab Tuban melarang pesta kembang api dan petasan.

Sebagai gantinya, bertempat di Alun-Alun Tuban, pemerintah daerah mengadakan doa bersama yang dihadiri oleh jajaran forum koordinasi pimpinan daerah (forkopimda), pejabat terkait di lingkup Pemkab Tuban, perwakilan lembaga/instansi vertikal, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan masyarakat umum.(tok)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#doa bersama #pcnu #Pemkab Tuban #malam tahun baru #Joyo Juwoto #Refleksi