RADARTUBAN – Panjangnya musim penghujan sepanjang 2025 berkontribusi terhadap penurunan jumlah kejadian kebakaran di Kabupaten Tuban.
Data Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP Damkar) Tuban menunjukkan, terjadi penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada 2024, jumlah peristiwa kebakaran tercatat sebanyak 103 kejadian. Sementara itu, sepanjang 2025 jumlahnya menurun menjadi 66 kejadian.
Dengan demikian, selama satu tahun terakhir terjadi penurunan sebanyak 33 kasus kebakaran.
Diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban, Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP Damkar Tuban Sutaji mengatakan, meski jumlah kejadian menurun, penyebab kebakaran masih didominasi oleh korsleting listrik.
“Meski angka menurun tetapi penyebab kejadian kebakaran yang banyak terjadi dipicu karena korsleting listrik,” ujar Sutaji kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Dia mencatat terdapat 39 kasus kebakaran yang disebabkan oleh korsleting listrik.
Faktor pemicunya, antara lain, instalasi kabel yang sudah tidak layak, penggunaan listrik yang berlebihan, serta kelalaian penghuni rumah yang lupa mencabut colokan listrik.
‘’Ada juga karena saat memasak kompor yang tidak dimatikan dan terjadi kebakaran,’” ujarnya.
Berdasarkan sebaran wilayah, kejadian kebakaran paling banyak terjadi di kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi.
Kecamatan Tuban menempati urutan pertama dengan 11 kejadian. Disusul Kecamatan Semanding dengan 9 kejadian, serta Kecamatan Rengel dengan 6 kejadian.
Sementara kecamatan lainnya rata-rata mencatat satu hingga empat kejadian.
Dari 20 kecamatan yang tercatat tidak pernah terjadi kejadian kebakaran hanya Bangilan, Bancar, dan Kenduruan.
Menurut dia, salah satu faktor utama penurunan angka kebakaran adalah kondisi cuaca.
Musim penghujan yang berlangsung cukup panjang membuat sejumlah potensi kebakaran berkurang, seperti kebakaran lahan dan kebakaran akibat aktivitas bediang.
Selain faktor alam, upaya pencegahan juga terus dilakukan. Sepanjang 2025, Damkar Tuban secara rutin menggelar sosialisasi terkait penanganan dan pencegahan kebakaran kepada masyarakat.
“Salah satunya melalui program penyediaan alat pemadam api ringan (Apar) di lingkungan permukiman,” imbuhnya.
Sutaji menambahkan, selama setahun terakhir tidak terdapat korban luka dalam peristiwa kebakaran di Tuban.
Kerugian yang terjadi hanya berupa kerusakan material dan harta benda.
Memasuki 2026, pihaknya akan terus meningkatkan upaya pencegahan dengan mengingatkan masyarakat untuk memperbaiki instalasi listrik yang sudah tidak layak, mematikan kompor saat meninggalkan rumah, serta berhati-hati saat menyalakan bediang atau perapian. (fud/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama