RADARTUBAN — Masalah di RSUD dr. R. Koesma Tuban kian bertumpuk. Belum tuntas krisis dokter spesialis yang membuat antrean pasien mengular, rumah sakit rujukan utama di Bumi Ronggolawe itu kini diguncang kebijakan mutasi massal puluhan perawat.
Di balik alasan efisiensi, muncul pertanyaan yang tak sederhana: ada apa dengan kondisi keuangan RSUD?
Sepekan terakhir, suasana internal RSUD Koesma disebut “memanas”. Sekitar 60 perawat berstatus PNS dimutasi ke sejumlah Puskesmas.
Tak hanya perawat pelaksana, mutasi juga menyasar penyelia hingga perawat dengan keahlian khusus.
Sumber internal rumah sakit menyebut kebijakan itu datang tanpa tanda-tanda.
“Kalau satu-dua orang, mungkin wajar. Tapi ini puluhan, dan mendadak. Tidak ada yang memprediksi,” ujarnya.
Kebutuhan Tak Sejalan
Yang membuat kegelisahan kian terasa, mutasi dilakukan justru saat RSUD Koesma masih kekurangan perawat.
Ironisnya, sejumlah Puskesmas tujuan mutasi dinilai telah memiliki tenaga keperawatan yang cukup.
“Ada Puskesmas yang sebenarnya sudah cukup perawatnya, tapi malah ditambah lagi. Ini tidak nyambung dengan kebutuhan,” kata sumber tersebut.
Dampak Psikologis yang Berat
Kebijakan mendadak itu tak hanya memantik syak wasangka, tetapi juga meninggalkan luka emosional. Beberapa perawat yang dimutasi disebut mengalami tekanan berat.
Bahkan, seorang perawat senior yang telah mengabdi sekitar 14 tahun dikabarkan meninggal dunia tak lama setelah dimutasi.
“Beliau punya riwayat darah tinggi. Diduga syok setelah mutasi, lalu kena serangan jantung. Dirujuk ke RSUD Bojonegoro karena tak tertangani di sini, tapi meninggal dunia,” ungkap sumber terpercaya.
SK Datang Belakangan
Keanehan lain muncul dari aspek administratif. Surat keputusan mutasi bertanggal 29 Desember 2025, dengan efektif kerja 2 Januari 2026.
Namun, SK itu baru diterima para perawat sekitar 8 Januari, sebagian bahkan dititipkan lewat bagian pelayanan.
“Ini makin membuat pegawai bertanya-tanya. RSUD seperti tidak baik-baik saja,” tandas sumber tersebut.
Manajemen Bicara Efisiensi
Pelaksana tugas Direktur RSUD dr. R. Koesma Tuban, drg. Heni Purnomo Wati, membenarkan adanya mutasi massal perawat. Heni menegaskan langkah tersebut diambil untuk meredakan tekanan fiskal yang dihadapi rumah sakit.
“Ini bagian dari efisiensi,” ujarnya singkat kepada Jawa Pos Radar Tuban, Minggu (11/1).
Pelayanan Diklaim Aman
Meski demikian, Heni memastikan mutasi tersebut tidak mengganggu layanan kesehatan. Pihak manajemen, kata dia, langsung berkoordinasi dengan seluruh unit pelayanan.
“Baik rawat jalan maupun rawat inap sudah kami koordinasikan. Alhamdulillah, insya Allah pelayanan tetap berjalan seperti biasa,” tegasnya.
Di tengah klaim efisiensi dan jaminan pelayanan, publik masih menanti jawaban yang lebih utuh.
Ketika rumah sakit kekurangan dokter dan perawat, namun justru melepas puluhan tenaga berpengalaman, wajar jika muncul dugaan: apakah tekanan fiskal RSUD Koesma sudah sedemikian berat. Atau ada problem manajemen yang lebih dalam dari sekadar efisiensi? (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni