Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Cuaca Ekstrem Melanda, Ratusan Nelayan Tuban Terpaksa Menganggur

Andreyan (An) • Minggu, 18 Januari 2026 | 16:24 WIB
Para nelayan di pesisir Desa Karangsari, Kecamatan Tuban memperbaiki mesin kapalnya di pantai wilayah setempat, kemarin (14/1).
Para nelayan di pesisir Desa Karangsari, Kecamatan Tuban memperbaiki mesin kapalnya di pantai wilayah setempat, kemarin (14/1).

 

RADARTUBAN - Cuaca buruk yang melanda sepanjang perairan laut Tuban dalam dua pekan terakhir berdampak langsung pada kehidupan nelayan pesisir.

Gelombang tinggi dan angin kencang memaksa banyak perahu bersandar di tepi pantai, sehingga pendapatan nelayan menurun drastis.

Bagi nelayan, tidak melaut berarti tidak ada penghasilan. Namun, faktor keselamatan lebih utama dan membuat mereka memilih bertahan di darat.

“Sudah dua pekan tak melaut, sangat berisiko jika nekat melaut di tengah cuaca buruk seperti sekarang ini. Mendapatkan tangkapan ikan tak seberapa, taruhannya nyawa,” ujar Sutrisno, nelayan Desa Karangsari, Kecamatan Tuban, saat ditemui Jawa Pos Radar Tuban.

Dia menjelaskan, dalam kondisi cuaca normal bisa memperoleh penghasilan Rp 200-500 ribu setiap kali melaut, tergantung hasil tangkapan.

Selama dua pekan terakhir, pemasukan tersebut praktis tidak ada.

“Dua pekan menganggur, di sini ratusan nelayan lainnya juga merasakan dampak yang sama,” katanya.

Hal serupa dialami Arif, nelayan setempat lainnya. Saat cuaca buruk, dia memanfaatkan waktu untuk memperbaiki jaring dan mesin kapal. Jika memungkinkan, dia juga bekerja serabutan.

“Kadang juga kerja serabutan di pasar, mancing di tepi laut juga. Kalau uang pegangan habis terpaksa utang,” tutur Arif.

Menurut para nelayan, tinggi gelombang dalam dua pekan terakhir masih berkisar antara 1,5 hingga 2,5 meter.

“Ombaknya cukup besar, kami juga khawatir kapal-kapal yang bersandar rusak terkena ombak,” ujar Sutrisno.

Imbauan untuk tidak melaut juga disampaikan Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HSNI) Tuban, Faisol Rozi.

Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Tuban, cuaca buruk di perairan Tuban diperkirakan masih akan berlangsung hingga sepekan ke depan.

“Risiko keselamatan cukup besar, sebaiknya menunggu cuaca normal baru melaut lagi,” kata Faisol.

Dia menambahkan, banyaknya nelayan yang tidak melaut turut memengaruhi pasokan ikan di pasaran.

Meski demikian, harga ikan di pasar tradisional masih relatif stabil.

“Stok ikan beku di pasar lokal masih mencukupi, sehingga harga di pasaran tak mengalami kenaikan signifikan,” ujarnya.(an/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #Cuaca Buruk #nelayan #gelombang tinggi