RADARTUBAN- Kabupaten Tuban sempat digadang menjadi “Texas-nya Indonesia” menyusul megaproyek New Grass Root Refinery (NGRR) atau Kilang Bahan Bakar Minyak (BBM) Tuban dengan nilai investasi yang diperkirakan mencapai sekitar US$ 23 miliar atau setara Rp 377,84 triliun.
Kendati belum ada kabar pasti terkait kelanjutan proyek tersebut, tahun ini, proyek dengan nilai investasi setara anggaran program makan bergizi gratis (MBG) selama 13 bulan itu masih masuk list penyumbang investasi di Bumi Ronggolawe.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Tuban Esti Surahmi mengungkapkan, proyeksi nilai investasi di Kabupaten Tuban pada tahun ini ditarget sebesar Rp 5,4 triliun. Naik kurang lebih Rp 1 triliun dari target tahun lalu Rp 4,4 triliun.
Esti menyampaikan, target nilai investasi mencapai lima triliun lebih itu merupakan angka yang ditetapkan pemerintah provinsi (pemprov) dari breakdown target nasional.
Salah satu yang mungkin menjadi pertimbangan dari target cukup besar tersebut adalah keberadaan proyek kilang minyak.
"Ya, masih memungkinkan (ada tambahan investasi dari kilang minyak Tuban, Red), tapi itu tergantung (kewenangan) pemerintah pusat. Makanya tidak ada target (yang diberikan secara khusus kepada pemerintah daerah, Red),’’ ujarnya.
Esti menjelaskan, target nilai investasi sebesar Rp 5,3 triliun merupakan angka kumulatif dari banyak sektor usaha yang berpotensi dikembangkan di Tuban. Juga termasuk tambahan investasi dari proyek yang sudah berjalan.
Misalnya, perusahaan semen Solusi Bangun Indonesia (SBI) Pabrik Tuban yang berencana mengembangkan kegiatan usaha atau pengadaan mesin atau alat baru.
"Jadi, investasi itu tidak hanya kegiatan usaha baru, tapi penambahan alat-alat juga bagian dari nilai investasi,’’ jelasnya.
Disinggung terkait perusahaan asing yang tertarik berinvestasi di Tuban, mantan kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban itu mengatakan, sudah ada beberapa perusahaan nasional dan internasional yang menjajaki peluang mengembangkan usaha di Tuban. Di antaranya, dari Korea Selatan dan Jerman.
"Kami aktif mengikuti pameran investasi seperti East Java Investment Forum (EJIF). Dari situ, beberapa perusahan dari luar yang difasilitasi Bank Indonesia lewat asosiasi datang ke sini (Tuban, Red). Tapi sejauh ini masih melihat potensi yang bisa dikembangkan, seperti industri kimia,’’ kata dia.
Lebih lanjut, Esti menyampaikan, untuk mencapai target nilai investasi yang telah ditetapkan tersebut, instansi yang diotoritasinya terus melakukan kegiatan promosi potensi Kabupaten Tuban di banyak forum-forum investasi.
"Sudah ada kurang lebih sepuluh perusahaan yang tertarik melakukan studi kelayakan. Jadi, sementara masih melakukan survei,’’ tandasnya.
Lahan yang Clear and Clean Cukup Bermaterai
Pada bagian lain—sebagaimana diberitakan sebelumnya—terkait munculnya kabar aturan syarat pengurusan izin berusaha yang harus mendaftarkan sewa tempat usaha ke notaris, Esti kembali menegaskan bahwa selama penguasaan lahan tempat usaha clear and clean, maka tidak perlu mendaftarkan ke notaris.
"Kalau lahan usaha belum clear and clean, maka proses sewa-menyewanya bisa dikuatkan di notaris. Tapi kalau (lahannya, Red) sudah clear and clean, maka cukup sewa menyewa bermaterai,’’ tandasnya.(tok)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni