RADARTUBAN - Bukannya bertambah sadar seiring zaman bergerak maju dan generasi yang semakin pintar, kesadaran masyarakat modern dalam menjaga alam dan lingkungan malah kian merosot.
Salah satunya yang tampak dari merosotnya kesadaran masyarakat dalam menjaga alam dan lingkungan, adalah semakin mudahnya manusia melakukan perusakan alam dan mudahnya membuang sampah sembarangan.
Pantauan Jawa Pos Radar Tuban, kerusakan alam yang berlindung di balik pemanfaatan sumber daya alam dan masifnya budaya buang sampah sembarang hampir merata di semua kecamatan se-Kabupaten Tuban.
Dari sejumlah kecamatan dan desa-desa ditelusuri wartawan koran ini, rata-rata ada satu-dua titik jalan desa yang menjadi tempat pembuangan sampah sembarangan.
Bahkan, tidak sedikit yang meluber hingga badan jalan hingga menampakkan pemandangan yang menjijikkan selepas diguyur hujan.
Tidak hanya titik-titik jalan. Sepanjang tepi pantai Tuban juga tidak lepas dari sasaran tempat buang sampah sembarangan.
Dari sekian banyak titik pantai yang didatangi wartawan koran ini, rata-rata banyak timbunan sampah plastik dan rumah tangga. Bahkan, tidak sedikit berceceran sampah popok bayi.
Plt Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Tuban Wawan Purwadi mengamini kondisi kerusakan alam dan kian pudarnya kepedulian masyarakat dalam menjaga lingkungan.
‘’Malah sekarang, budaya buruk itu (buang sampah sembarangan, Red) seakan bergeser ke desa. Ketika masyarakat yang tinggal di perkotaan mulai peduli dengan lingkungan, kini masyarakat yang tinggal di desa malah semakin mudah buang sampah sembarangan di tepi-tepi jalan,’’ katanya.
Bahkan, tegas Wawan, yang paling memprihatinkan lagi, beberapa sungai dan saluran irigasi di desa dijadikan tempat buang sampah.
‘’Pernah sekali waktu saya menjumpai, semua jenis sampah bercampur dengan sampah popok bayi di sungai yang masih ada airnya. Benar-benar menjijikkan dan sangat tidak baik untuk kesehatan lingkungan sekitar,’’ keluhnya.
Seiring dengan fenomena tersebut, Wawan menilai, masyarakat modern hanya bertambah pintar, namun jauh dari bijaksana.
Dulu, terang dia, masyarakat yang tinggal di desa mampu mengelola sampah dengan baik dan memiliki tempat pembuangan sampah di pekarangan masing-masing.
Lebih lanjut, mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu menyampaikan, orang tua, kakek-buyut terdahulu memang tidak pintar, tapi mereka bijaksana.
Mereka mampu memanfaatkan sampah rumah tangga sisa makanan untuk pakan ternak, dan ada juga yang dijadikan pupuk kompos. Tidak ada yang buang sampah sembarangan di pinggir jalan.
‘’Tapi sekarang, manusia-manusia pragmatis (malas mengolah sampah, Red) itu sudah bergeser ke desa. Budaya buang sampah sembarangan sudah menjalar hingga ke pelosok-pelosok desa,’’ ujarnya.
Wawan menyadari betul bahwa gerakan mengembalikan kesadaran dan kebijaksanaan untuk tidak buang sampah sembarangan tidak bisa hanya dipasrahkan kepada pemerintah. Sebab, kesadaran dan kebijaksanaan itu merupakan ruang personel.
‘’Menjaga alam, menjaga lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, itu tidak membutuhkan kebijakan, tapi cukup kesadaran dan kebijaksanaan,’’ tuturnya.
Meski demikian, terang bapak dua anak itu, ketegaskan pemerintah melalui kebijakan tetap diperlukan untuk menertibkan laku buruk masyarakat tersebut.
‘’Ketika kesadaran dan kebijaksanaan mulai luruh, maka kebijakan yang tegas dari pemerintah satu-satunya adalah cara untuk mendisiplinkan manusia-manusia yang mulai lupa dengan tanggung jawabnya menjaga alam dan lingkungan tersebut,’’ tandasnya.
Pernyataan senada juga disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) Tuban Athon Tri Wibowo.
Tanpa mengurangi tanggung jawab pemerintah dalam menjalankan kebijakan menjaga alam dan lingkungan, Anton menegaskan bahwa menjaga alam dan lingkungan adalah tanggung jawab kolektif.
‘’Dibutuhkan kepedulian bersama, sebab pemerintah tidak bisa berjalan sendiri,’’ tegasnya.
Lebih lanjut, Anthon menyampaikan, tanggung jawab kolektif itu bisa dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana—dari lingkungan keluarga.
‘’Ketika pemerintah membuat kebijakan gerakan menanam pohon, maka masing-masing keluarga juga harus memiliki kesadaran yang sama. Minimal menanam pohon di rumah masing-masing,’’ ujarnya.
Pun demikian dalam hal pengelolaan sampah.
Ketika pemerintah berupaya mendisiplinkan masyarakat dengan menyediakan banyak tempat-tempat sampah di ruang publik, maka sudah sepatutnya membuang sampah pada tempatnya.
‘’Budaya buang sampah pada tempatnya ini harus dimulai dari kedisiplinan diri sendiri. Minimal, kalau sudah ada tempat sampah, ya jangan buang sampah sembarangan,’’ tuturnya yang berharap masyarakat Tuban memiliki kesadaran dan kebijaksanaan yang sama. (tok)
Editor : Yudha Satria Aditama