RADARTUBAN - Perayaan Natal Bersama umat Katolik dan Kristen di Kabupaten Tuban pada awal 2026 menjadi momentum refleksi mendalam bagi ribuan jemaat.
Perayaan yang diselenggarakan Kamis (22/1) di Graha Sandiya Tuban itu menegaskan pentingnya kehadiran Allah serta peran keluarga sebagai pilar utama dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
Ketua Panitia Natal Bersama, Pendeta Fona Asa Zai, mengungkapkan bahwa rangkaian agenda pasca perayaan 25 Desember membawa pesan yang kontekstual dengan kondisi dunia, termasuk Indonesia, yang tengah menghadapi berbagai persoalan dan krisis.
Ia menekankan bahwa kehadiran Tuhan harus dimaknai sebagai kekuatan untuk membentengi keluarga dari pengaruh dosa yang dapat menghambat keselamatan spiritual umat.
“Tema Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga menjadi wujud harapan agar kehadiran Tuhan sebagai Juru Selamat mampu menjaga keluarga dari berbagai krisis yang terjadi saat ini, terutama dari pengaruh dosa yang dapat menghambat umat masuk ke dalam surga,” ungkapnya.
Pendeta Gideon Liang Soegiarto turut menyampaikan pesan reflektif dalam khotbahnya. Ia mengajak umat menyadari keterbatasan manusia dalam menghadapi persoalan duniawi yang pelik.
Menurutnya, tanpa kesadaran tersebut, manusia mudah terjebak dalam keputusasaan ketika menghadapi badai kehidupan yang datang silih berganti.
Pendeta Gideon menegaskan bahwa kehadiran Sang Juru Selamat di dalam keluarga bukan sekadar pelengkap spiritual, melainkan kebutuhan utama untuk memulihkan berbagai keretakan sosial.
“Pentingnya kehadiran Allah dalam keluarga adalah untuk memulihkan kita dari hal-hal yang sulit diatasi sendiri, mulai dari tekanan ekonomi hingga menjaga keharmonisan rumah tangga dari risiko perpecahan,” tutur pendeta asal Malang itu.
Sementara itu, Romo Stevanus Kholik Kurniadi memberikan perspektif bahwa keluarga merupakan tempat bertumbuhnya kehidupan beragama sekaligus bermasyarakat.
Ia mengingatkan bahwa keluarga perlu bertumbuh dalam iman yang baik, benar, dan bijaksana kepada Allah yang Kudus, sehingga umat juga mengalami kekudusan dalam hidupnya.
“Natal adalah perayaan syukur karena Allah hadir dalam kasih-Nya untuk menyelamatkan manusia yang mau dibentuk. Hakikat cinta adalah kehadiran itu sendiri. Tanpa kehadiran, cinta hanya menjadi realitas yang kosong. Karena itu, salam sapaan, saling memaafkan, mendoakan, berbagi, serta keterbukaan dengan agama maupun suku lain menjadi tindakan nyata yang harus diwujudkan dalam kehidupan,” terang Romo Kholik. (saf/yud)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni