RADARTUBAN – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban belum bisa memberikan kesimpulan terkait kasus dugaan pelecehan seksual terhadap pasien yang dilakukan oknum perawat di salah satu puskesmas di Tuban.
Berdasar informasi yang diterima Jawa Pos Radar Tuban, oknum perawat cabul itu sempat menjalani perawatan intensif di RSUD dr. R. Koesma Tuban setelah menenggak racun.
Aksi nekat itu dilakukan setelah kasusnya diketahui publik.
Sehingga, untuk sementara dia dimutasi dari bagian pelayanan ke administrasi.
Kepala Dinkes P2KB Tuban drg. Roikan mengatakan, kasus dugaan tindak asusila yang dilakukan oknum perawat di tingkat pelayanan pertama itu masih dalam proses investigasi.
‘’Sambil menunggu proses (investigasi, Red), yang bersangkutan (oknum perawatan) tidak lagi ditempatkan di bagian pelayanan,’’ katanya kepada wartawan koran ini kemarin (26/1).
Sementara itu, saat disinggung ihwal adanya kabar mediasi antara terduga pelaku dan korban, pejabat definitif Direktur RSUD Ali Mansyur Jatirogo itu belum mengetahui kabar tersebut.
‘’Kok belum ada info (terkait kabar mediasi, Red),’’ ujarnya.
Meski demikian, sebagai pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) yang membawahi puskesmas se-Kabupaten Tuban, Roikan berharap kasus ini segera selesai dengan penyelesaian yang terbaik.
‘’Semoga diberi (solusi, Red) yang terbaik,’’ tandasnya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, dugaan pelecehan terhadap pasien di salah satu puskesmas itu terungkap melalui kanal aduan pelayanan puskesmas setempat.
Seseorang—yang kemungkinan dari keluarga pasien mengadukan dugaan tindak asusila yang dilakukan oknum nakes.
Dalam aduannya, pengadu membeberkan kronologi perbuatan tidak patut yang dilakukan oknum nakes.
Diceritakan, si pasien mengalami gangguan pada telinganya.
Sesampainya di puskesmas dan setelah mendaftar, pasien ditangani oleh salah satu nakes.
Anehnya, saat melakukan pemeriksaan, yang diperiksa bukan bagian telinga, tapi malah bagian tubuh yang sensitif (disebutkan dalam aduan) dan tanpa menggunakan sarung tangan.
Dituliskan, si oknum nakes meraba-raba bagian tubuh yang tidak ada kaitannya dengan keluhan pasien.
Bahkan diungkapkan juga, si oknum tanpa sekali pun memeriksa bagian telinga dan hanya dikasih resep. (tok)
Editor : Yudha Satria Aditama