RADARTUBAN –Pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) di Tuban dipastikan tidak menjadi beban psikologis bagi siswa, seperti Ujian Nasional (UN).
Meski kerap disandingkan dengan UN, TKA bersifat tidak wajib dan tidak menjadi penentu tunggal kelulusan peserta didik.
Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban, Kepala Bidang Pengelolaan Pendidikan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban Mokhamad Nurdin mengatakan, kebijakan tersebut dirancang untuk menghindari tekanan berlebihan pada siswa.
Karena itu, keikutsertaan dalam TKA sepenuhnya bergantung pada kesiapan peserta.
“TKA ini sifatnya tidak wajib. Tidak seperti UN yang wajib dan menentukan kelulusan. Akan ada surat pernyataan keikutsertaan bagi siswa untuk memastikan mereka benar-benar siap tanpa paksaan,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya.
Kendati tidak diwajibkan, lanjut Nurdin, institusinya tetap mendorong seluruh siswa untuk berpartisipasi. Siswa berkebutuhan khusus pun diberi kesempatan mengikuti TKA dengan pendampingan.
Namun, bagi siswa yang dinilai tidak memungkinkan mengikuti ujian terstandar tersebut, tidak akan dipermasalahkan.
Nurdin menjelaskan, TKA bukan sekadar tes akademik biasa. Soal-soal yang disajikan mengadopsi konsep High Order Thinking Skills (HOTS) yang menekankan kemampuan bernalar kritis tingkat tinggi.
Materi ujian tidak hanya menguji pengetahuan dasar, namun juga literasi dan numerasi melalui soal pilihan ganda dan pilihan ganda majemuk.
Lebih lanjut, dia menyebutkan hasil TKA direncanakan dapat dimanfaatkan sebagai salah satu jalur masuk ke jenjang pendidikan berikutnya melalui jalur prestasi.
Namun, hingga kini belum ada kepastian mengenai formulasi nilai TKA terhadap ijazah siswa.
“Selain nilai rapor, sertifikat, atau hafalan, ke depan kemungkinan akan ditambah dengan nilai TKA. Tapi ini masih dalam tahap perencanaan. Petunjuk teknisnya masih diproses oleh pemerintah pusat,” kata mantan kepala SDN Kebonsari 2 Tuban itu.
Meski tidak bersifat wajib, kata Nurdin, TKA dinilai memiliki daya tawar tinggi. Terutama bagi siswa yang menargetkan sekolah-sekolah favorit di Kabupaten Tuban.
Selain itu, hasil TKA juga akan dimanfaatkan dinas pendidikan sebagai bahan pemetaan mutu pendidikan.
Menurut Nurdin, pemetaan tersebut penting untuk menentukan kebijakan lanjutan. Jika terdapat wilayah dengan capaian nilai rendah, dinas pendidikan akan melakukan evaluasi langsung ke lapangan.
Hasil TKA juga diharapkan menjadi pemicu bagi guru dan siswa untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Bisa saja sekolah yang selama ini dianggap biasa, justru hasil TKA-nya melampaui sekolah unggulan. Ujian terstandar ini dapat menjadi alat pembanding capaian akademik antarsiswa dan antarsekolah,” ujarnya.
Untuk memastikan kesiapan pelaksanaan, Kemendikdasmen menjadwalkan simulasi TKA secara bertahap.
Simulasi jenjang SMP dijadwalkan berlangsung pada 23 Februari–1 Maret. Disusul jenjang SD pada 2–8 Maret. Gladi bersih dijadwalkan pada 9–17 Maret 2026.
Adapun pelaksanaan utama TKA untuk jenjang SMP direncanakan berlangsung selama 6–16 April, sementara jenjang SD pada 20–30 April 2026.
Pelaksanaan ujian akan dilakukan selama sepuluh hari untuk mengakomodasi keterbatasan fasilitas di sejumlah sekolah.
“Sekolah yang fasilitasnya belum memadai bisa menumpang di sekolah lain. Pada prinsipnya, kami pastikan semua sekolah siap,” tegas Nurdin.
Saat ini, proses pendaftaran peserta TKA masih berlangsung. Dinas Pendidikan Tuban belum dapat memastikan jumlah siswa yang akan mengikuti tes tersebut.
“Jumlah peserta masih dalam tahap rekapitulasi. Jika datanya sudah final, akan kami sampaikan,” ujar Nurdin.(saf/ds)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni