Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tidak Lagi Dianggap Prioritas, Angka Pernikahan di Tuban Turun Hampir 10 Persen dalam Tiga Tahun

Ahmad Atho’illah • Selasa, 3 Februari 2026 | 16:05 WIB

 

Pernikahan di Tuban menurun 685 pasang, dipicu faktor ekonomi, gaya hidup, dan penundaan menikah.
Pernikahan di Tuban menurun 685 pasang, dipicu faktor ekonomi, gaya hidup, dan penundaan menikah.

RADARTUBAN - Matangnya pemahaman generasi muda terhadap makna ikatan pernikahan ternyata malah berbanding terbalik dengan angka pernikahan yang tercatat di Kementerian Agama (Kemenag) Tuban.

Bahkan, trennya mengalami penurunan signifikan.

Merujuk data Kemenag Tuban, dalam tiga tahun terakhir ini (2023-2025) angka pernikahan di Bumi Ronggolawe mengalami penurunan hampir 10 persen atau sebanyak 685 pasang—dari 8.766 pada 2023 menjadi 8.081 pada 2025.

Kepala Kantor Kemenag Tuban Umi Kulsum mengatakan, tren penurunan angka pernikahan ini terjadi secara nasional sejak 13 tahun terakhir (2013-2025).

Di level nasional, terang Umi, penurunannya hampir 34 persen—dari 2013 sebanyak 2.210.158 menjadi 1.480.083 pada 2025.

‘’Tren penurunan ini (angka pernikahan, Red) terjadi secara nasional,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Umi menyampaikan, penurunan angka pernikahan secara drastis ini dipengaruhi banyak faktor.

Di antaranya, pengajuan permohonan dispensasi kawin (diska) yang semakin diperketat, tekanan ekonomi dan biaya hidup tinggi, serta tren gaya hidup modern seperti menunda menikah dan child free, sehingga berdampak pada keputusan untuk membangun rumah tangga.

‘’Di satu sisi kita berhasil menekan angka diska, tapi di sisi lain angka pernikahan menjadi turun. Tapi di luar itu juga masih banyak faktor,’’ terang kepala kantor perempuan pertama di Kemenag Tuban itu.

Umi mengakui, dalam satu dekade terakhir ini terjadi pergeseran nilai sosial dan gaya hidup generasi muda dalam memandang pernikahan.

Mantan kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Tuban ini mengamini bahwa pemahaman generasi muda terhadap ikatan pernikahan semakin matang.

Namun, anehnya, matangnya pemahaman tersebut tidak berbanding lurus dengan keinginan untuk cepat menikah.

Sebaliknya, banyak generasi muda kiwari yang semakin ragu untuk menikah lantaran insight-nya terhadap pernikahan tidak hanya sekadar ikatan dan kebutuhan biologis.

Faktor inilah yang membedakan generasi sekarang dengan dulu.

Konkretnya, masyarakat modern lebih realistis dalam memandang pernikahan. Jika tidak siap secara mental dan ekonomi, generasi muda kiwari lebih baik menunda untuk menikah.

‘’Termasuk tren childfree, ini juga menyebabkan banyak generasi muda enggan untuk menikah,’’ terangnya.

Lebih lanjut, Umi menyampaikan, faktor tambahan yang juga menyebabkan banyak generasi muda takut untuk menikah adalah tingginya angka perceraian dan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

‘’Dari banyak faktor tersebut, pernikahan tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang harus diprioritaskan (buru-buru untuk ditunaikan),’’ ujarnya. Terlebih, bagi generasi muda yang masih menempuh pendidikan. Rata-rata lebih mengutamakan pendididikan ketimbang harus menikah muda.

Dari sekian faktor di atas, hal ini menandaskan bahwa pemahaman sebagian generasi muda kiwari terhadap pernikahan tidak sekadar keharusan normatif dan definisi operasional atau sekadar indikator usia.

Melainkan pemenuhan kebutuhan secara subjektif dan sosial—bahwa keputusan untuk menjalin ikatan pernikahan harus didasari dengan kesiapan matang. Khususnya dalam hal ekonomi.

Meski demikian, tegas Umi, penurunan angka pernikahan tidak serta-merta menandai meredupnya makna pernikahan itu sendiri.

Menurutnya, tren ini menyiratkan pergeseran hambatan yang dihadapi setiap individu. Termasuk tuntutan ekonomi dan standar kecocokan.

Hal ini sekaligus menandaskan bahwa bahwa pertimbangan menikah bagi generasi muda tidak lahir dari ruang hampa, tetapi dari kondisi material yang secara perlahan membentuk harapan dan batas pilihan setiap individu.(tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #gaya hidup #Kemenag #pernikahan