RADARTUBAN – Proyek Kilang Tuban kembali memberi tanda, meski belum juga bergerak.
Di tengah proses final investment decision (FID) yang berlarut-larut di pihak Rosneft, PT Pertamina (Persero) mulai memainkan langkah antisipatif: membuka ruang masuknya mitra tambahan demi menjaga megaproyek ini tetap hidup.
Sinyal itu tak datang dari pejabat teknis biasa, melainkan dari Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza.
Sebuah pesan yang, jika dibaca cermat, mencerminkan kegelisahan sekaligus kehati-hatian BUMN energi terbesar di Indonesia dalam menghadapi proyek bernilai jumbo dan penuh risiko.
Baca Juga: Proyeksi Nilai Investasi di Tuban Ditarget Rp 5,3 T, Mega Proyek Kilang Minyak Masih Jadi Harapan
Beban Capex Terlalu Besar untuk Dua Pemain
Oki tak menutup mata bahwa proyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban membutuhkan belanja modal (capital expenditure/capex) yang sangat besar.
Skala investasi yang tak lagi bisa ditopang oleh skema kerja sama dua pihak, Pertamina dan Rosneft, seperti rancangan awalnya.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa proses FID Rosneft belum berhenti.
“Karena itu kita melakukan partnerships. Saat ini statusnya sedang FID nanti mudah-mudahan kita bisa segera menyelesaikannya dan mudah-mudahan bisa segera menuju tahapan selanjutnya,” kata Oki, dikutip dari Bloomberg Technoz.
Di balik pernyataan itu, tersirat perubahan pendekatan. Pertamina tak lagi menunggu satu pintu terbuka, melainkan mulai menyiapkan pintu alternatif.
Masuknya mitra tambahan diposisikan sebagai buffer—penyangga agar proyek tak kembali tersandera waktu.
Langkah ini sekaligus menjadi refleksi jujur bahwa skema lama belum sepenuhnya mampu menjawab tantangan pendanaan, geopolitik, hingga dinamika pasar energi global.
Arah Kebijakan Bergeser: Ketahanan Energi di Depan
Oki juga menegaskan bahwa langkah Pertamina tak berdiri sendiri. Koordinasi intensif dilakukan dengan pemerintah pusat, termasuk Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Danantara.
“Untuk partner-partner di refinery ini kami tentunya berkoordinasi sangat erat dengan pemerintah, dengan Danantara, dan juga dengan Kementerian ESDM,” ujarnya.
Arahan dari pucuk pimpinan kementerian disebut semakin jelas: kapasitas kilang nasional harus dipercepat, tak bisa terus bergantung pada impor.
“Baru kemarin kami dari Pak Menteri dan juga Pak Dirjen kita selalu ada arahan-arahan untuk tentunya mempercepat penambahan kapasitas ini. Jadi akan ada additional partners yang akan bergabung untuk memperkuat ketahanan energi di Indonesia,” tegas Oki.
Pernyataan ini menggeser narasi Kilang Tuban dari sekadar proyek bisnis menjadi proyek strategis negara.
Tolok ukurnya bukan lagi hanya kelayakan finansial, tetapi ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.
Baca Juga: Pemerintah Berupaya Proyek Kilang Minyak Tuban Tetap Berdiri, Meski Berulang Kali Di-PHP Rusia
FID Masih Berjalan, Tapi Tenggat Mengabur
Di sisi regulator, Kementerian ESDM mengakui bahwa keputusan investasi akhir Rosneft belum juga diketok hingga awal tahun ini. Target kuartal IV-2025 yang sebelumnya dipasang, praktis tak tercapai.
“Masih berproses (FID Rosneft di Kilang Tuban),” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, Rabu (14/1) malam.
Laode belum berani mengunci jadwal baru. Sikapnya cenderung normatif, menegaskan bahwa proses tetap berjalan.
“Belum, tetapi tetap berproses. Kan masih berproses, kita tunggu ya,” ujarnya.
Situasi ini menempatkan Kilang Tuban dalam posisi serba tanggung: terlalu strategis untuk dibatalkan, namun terlalu lama tertahan untuk terus dibiarkan tanpa kepastian.
Janji Desember yang Tak Pernah Jadi
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sempat menyampaikan optimisme. Bahlil menyebut keputusan FID Rosneft akan diambil pada pertengahan Desember 2025, setelah pembahasan dengan Pertamina rampung.
“Rosneft lagi melakukan pembahasan dengan Pertamina. Nanti di pertengahan bulan ini baru ada keputusan,” kata Bahlil, Senin (8/12) lalu.
Namun hingga tenggat itu lewat, keputusan konkret tak kunjung muncul. Kini, opsi menghadirkan mitra tambahan menjadi penanda bahwa proyek ini memasuki fase baru—lebih realistis, meski juga lebih kompleks.
Taruhan Besar untuk Tuban dan Nasional
Sebagai catatan, proyek Kilang Tuban digarap oleh PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP) dengan nilai investasi sekitar US$ 20,7 miliar.
Pertamina melalui PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) menguasai 55 persen saham, sementara 45 persen lainnya dipegang Rosneft Singapura.
Setelah tersendat bertahun-tahun, proyek ini sejatinya diproyeksikan menjadi tulang punggung baru industri pengolahan migas nasional.
Namun realitas di lapangan menunjukkan, tanpa FID yang tegas, megaproyek sekalipun bisa terjebak di ruang tunggu yang panjang.
Masuknya mitra baru kini bukan lagi pilihan sekunder, melainkan kebutuhan strategis.
Bagi Tuban, ini bukan sekadar soal nilai investasi, melainkan tentang masa depan kawasan yang sejak lama menanti realisasi janji besar negara. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni