Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Ditolak Tukang Becak Sunan Bonang, Sopir Shuttle: Kami Juga Mencari Makan

M. Mahfudz Muntaha • Senin, 9 Februari 2026 | 18:10 WIB

 

Kendaraan shuttle di Parkir Tundung Mungsuh menunggu penumpang untuk diantarkan ke makam sunan bonang.
Kendaraan shuttle di Parkir Tundung Mungsuh menunggu penumpang untuk diantarkan ke makam sunan bonang.

RADARTUBAN – Paguyuban Shuttle akhirnya angkat bicara terkait tuntutan penghentian operasional kendaraan angkutan umum yang melayani peziarah Makam Sunan Bonang Tuban.

Mereka menilai tudingan sebagai penyebab sepinya peziarah tidak adil dan tidak berdasar.

Ketua Paguyuban Shuttle Agus Muji Harsono mengatakan, sejak awal pihaknya tidak pernah berniat mengganggu mata pencaharian pelaku usaha lain, termasuk pedagang dan tukang becak.

Para pengemudi shuttle bahkan telah bersedia mengikuti penataan yang ditetapkan Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) Tuban.

Dalam kebijakan tersebut, shuttle ditempatkan di sekitar area Makam Sunan Bonang untuk mengangkut peziarah kembali ke lokasi parkir.

Namun, menurut Agus, penataan yang baru berjalan sekitar satu bulan justru merugikan para pengemudi shuttle.

“Kami banyak mengalami gangguan, sehingga kehilangan pelanggan,” ujarnya.

Dia mencontohkan, saat shuttle diwajibkan mangkal di Jalan Pemuda dan menunggu peziarah keluar dari pintu barat, gesekan dengan pedagang langsung terjadi.

Peziarah disebut dilarang melintas pintu barat karena dikhawatirkan berdampak pada omzet dagangan.

“Kami akhirnya pindah ke parkiran Kantor Pos agar peziarah keluar lewat pintu barat,” katanya.

Namun, persoalan tak berhenti di situ. Di lokasi baru, para pengemudi shuttle kembali berhadapan dengan pembecak.

Becak yang seharusnya terpusat di Parkir Wisata Kebonsari, kata Agus, justru banyak yang kembali mangkal di depan Museum Kambang Putih. Selain itu, muncul pula ojek dadakan yang mengangkut peziarah.

“Akibatnya, kami sering kosong karena peziarah sudah diangkut pihak lain,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat pengemudi shuttle memilih meninggalkan area sekitar Makam Sunan Bonang dan kembali mangkal di parkiran Makam Tundung Mungsuh untuk mengangkut peziarah yang busnya parkir di tempat tersebut.

Langkah itu diambil setelah berhari-hari tidak memperoleh penghasilan. “Kesepakatan penataan angkutan wisata tidak dipatuhi semua pihak,” katanya.

Agus juga membantah klaim bahwa shuttle meraup banyak penumpang.

Menurut dia, dari sekitar 35 anggota paguyuban, pada hari biasa, sebagian besar hanya mengangkut satu kali, bahkan tidak sedikit yang tidak mendapatkan penumpang sama sekali.

“Kalau ramai memang bisa dua sampai tiga kali, tapi itu jarang, hanya beberapa kali dalam sebulan,” ujarnya.

Terkait tudingan mematikan rezeki pedagang dan tukang becak di Parkir Wisata Kebonsari, Agus menilai kondisi sepi peziarah terjadi secara umum, bukan akibat keberadaan shuttle.

“Memang sedang sepi, bukan karena shuttle,” katanya.

Meski demikian, Paguyuban Shuttle menyatakan siap menghentikan operasional sementara untuk menghindari konflik.

Sejak Selasa lalu, aktivitas shuttle disebut telah berhenti. “Kami menunggu kondisi mereda agar tidak terjadi gesekan,” ujarnya.

Agus menegaskan, pihaknya tidak bisa selamanya berhenti beroperasi. Saat ini, paguyuban masih berkomunikasi dengan dinas perhubungan terkait kejelasan nasib shuttle.

“Kami warga Tuban dan meminta perlindungan,” tegasnya.

Dia menambahkan, paguyuban siap mengikuti kebijakan baru pemerintah daerah. Itu pun  dengan catatan pengemudi shuttle dilibatkan dan pelaksanaannya berjalan adil tanpa intervensi. “Kami kerap mengalami intimidasi. Semua harus fair,” katanya.

Sementara itu, Kepala DLHP Tuban Anthon Tri Laksono belum memberikan keterangan terkait kelanjutan operasional shuttle. Hingga berita ini ditulis, pertanyaan tertulis yang dikirim ke nomor WhatsApp-nya belum dibalas. (fud/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #kebonsari #Makam Sunan Bonang #shuttle