RADARTUBAN- Meski memiliki hobi olahraga yang cukup ekstrem, yakni futsal dan eksplorasi alam yang menantang adrenalin, Sefia Dwi Nuraini tetap teguh melestarikan budaya.
Menurutnya, melestarikan budaya, terutama tari tradisional sangat krusial bagi generasi muda agar kekayaan bangsa tidak luntur ditelan zaman. Dia menyadari identitas bangsa ada di tangan generasi muda.
"Sangat perlu bagi anak-anak untuk memahami tari tradisional. Ini adalah cara kita membantu melestarikan kebudayaan," ujar siswi kelas XI SMAN 3 Tuban ini.
Dara asal Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding ini membuktikan bahwa menjadi bagian dari Generasi Z tidak selalu hanyut dalam arus modernisasi.
Baginya, tari tradisional bukan sekadar gerak tubuh, melainkan sebuah panggilan hati yang menyatu dalam dirinya sejak dini.
Bagi, Sefia, tari tradisional menawarkan kenyamanan tersendiri dan sensasi berbeda yang tidak dia temukan pada tarian modern.
Kenyamanannya itu membawanya menguasai berbagai tarian tradisional yang tidak mudah, seperti tari mustikaning kenya, gambyong mari kangen, gambyong pareanom, ni lanjar, miyang, putri kirana, tari kreasi, dan tradisional lainnya.
"Yang paling aku sukai dari tari tradisional dan tidak ada di tarian modern itu keluwesan dalam gerak tarinya dan 3W yang artinya wirasa, wiraga, dan wirama. Kita tidak hanya menyelaraskan tubuh, tapi juga menyamakan raga dengan irama dan perasaan,” katanya.
Jam terbang gadis 17 tahun ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Dia telah melanglang buana dari panggung sekolah hingga acara bergengsi.
Jejak prestasinya tercatat dalam ajang FLS2N, FLS3N, hingga SMA Awards. Tidak hanya berhenti di situ, dia juga pernah memukau penonton dalam gelaran Tongklek di Pati, Jawa Tengah. (saf/ds),
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni