RADARTUBAN - Meski tengah menjalankan ibadah puasa, antusiasme masyarakat tidak surut untuk menghadiri pesta rakyat yang digelar di pelataran TITD Kwan Sing Bio, Kabupaten Tuban, kemarin (22/2).
Sejak pagi, ribuan warga memadati kawasan tempat ibadah Tri Dharma tersebut untuk menyaksikan rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili.
Pengunjung datang tidak hanya dari berbagai di Tuban, namun juga dari luar daerah seperti Surabaya dan Semarang.
Kepadatan terlihat di area halaman kelenteng yang menghadap ke laut pantai utara tersebut.
Kemeriahan acara menjadi daya tarik tersendiri melalui perpaduan akulturasi budaya. Penampilan barongsai dan liang liong berpadu dengan kesenian tradisional Jawa Timur, Ponorogo yang dikenal melalui pertunjukan reog.
Selain pertunjukan seni, panitia juga menyediakan layanan pengobatan tradisional gratis, mulai dari akupunktur hingga pijat refleksi, yang terbuka untuk masyarakat umum.
Suasana semakin semarak dengan pengundian doorprize setiap jam. Beragam hadiah, seperti kulkas hingga sepeda listrik, disiapkan panitia untuk menarik partisipasi pengunjung.
Ketua penyelenggara, Go Tjong Ping, mengatakan pesta rakyat ini digelar untuk menghidupkan kembali aktivitas kelenteng yang belakangan cenderung sepi.
“Adanya pesta rakyat ini adalah untuk memberanikan orang kembali datang ke kelenteng,” ujarnya di sela kegiatan.
Dia memerkiran jumlah pengunjung mencapai sedikitnya 10 ribu orang, sementara umat kelenteng yang hadir sekitar 80 orang.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kelenteng tidak hanya sebagai tempat ibadah, namun juga berpotensi menjadi ruang interaksi sosial dan wisata budaya bagi masyarakat luas.
Menurut dia, kehadiran reog dalam perayaan Imlek juga memiliki makna simbolis sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus harapan penolak bala.
“Harapannya, dengan adanya kegiatan seperti ini, kejayaan kelenteng Kwan Sing Bio dapat kembali pulih,” katanya.
Lebih lanjut, pria yang juga dikenal sebagai Teguh Prabowo Gunawan itu menegaskan seluruh pembiayaan kegiatan berasal dari swadaya pengurus kelenteng.
Keramaian pengunjung diharapkan turut menggerakkan perekonomian lokal, terutama bagi pelaku UMKM dan pedagang di sekitar lokasi.
Kegiatan yang berlangsung hingga sore hari tersebut berjalan tertib dan penuh nuansa toleransi. Pesta rakyat ini menjadi gambaran bagaimana keberagaman budaya dapat menjadi perekat harmoni masyarakat. (saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama