RADARTUBAN - Di balik nama Masjid Kafrawi yang hingga kini menjadi pusat kegiatan keagamaan warga Desa Mandirejo, Kecamatan Merakurak, tersemat sosok ulama yang pernah berpengaruh pada masanya, KH Kafrawi.
Masjid tersebut didirikan sebagai penanda jasa dan pengabdian kian tersebut dalam menyebarkan ajaran Islam di wilayah Merakurak dan sekitarnya.
Dalam sejumlah literatur, nama KH Kafrawi tidak banyak diulas. Penelusuran melalui berbagai sumber justru lebih sering mengarah pada KH Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama ke-2 pada masa Presiden Soekarno.
Keduanya memang memiliki keterkaitan erat. KH Fathurrahman Kafrawi merupakan putra dari KH Kafrawi.
Untuk menelusuri jejak sang ulama, Jawa Pos Radar Tuban menemui Hadi Prayitno, sesepuh Desa Mandirejo. Menurut Hadi, KH Kafrawi merupakan tokoh yang tidak bisa dipisahkan dari desa tersebut.
Sejak kecil hingga dewasa, sebagian besar hidupnya dihabiskan di Mandirejo, tepatnya di kawasan yang dahulu dikenal dengan sebutan Santren.
“Kediaman Kiai Kafrawi dulu itu ya di sini, di sekitar area Masjid Kafrawi ini,” tutur Hadi.
Berdasarkan cerita turun-temurun yang dia dengar dari orang tuanya, KH Kafrawi merupakan seorang gus atau putra ulama ternama. Ayahnya bernama Kiai Arifin.
Sementara kakeknya dikenal sebagai Kiai Abdul Kodir atau yang oleh warga setempat dipanggil Mbah Diro. Kiai Arifin disebut telah memiliki pesantren yang kemudian dilanjutkan oleh KH Kafrawi.
“Tapi secara detail letak pesantrennya itu di mana saya kurang paham, tapi lokasinya di sekitar masjid ini,” katanya.
Selama mengajar ilmu agama Islam, santri KH Kafrawi datang dari berbagai daerah. Kealimannya dalam bidang fikih, nahwu sharaf, dan disiplin ilmu keislaman lainnya membuat namanya dikenal luas hingga ke pelosok.
“Dan, disebut-sebut kiai dari Sarang, Jawa Tengah juga merupakan santri Kiai Kafrawi,” ujar Hadi.
Keilmuan KH Kafrawi tidak hanya dikenal di kalangan masyarakat, namun juga oleh pemerintah Hindia Belanda. Pada rentang 1892–1911, saat Bupati Tuban ke-35 Raden Adipati Ario Koesoemodigdo menjabat, KH Kafrawi diangkat sebagai penghulu agama.
Jabatan tersebut pada masa kolonial memiliki otoritas dalam urusan keagamaan, yang fungsinya serupa dengan ketua pengadilan agama saat ini.
“Ketika menjadi penghulu agama, baru selanjutnya beliau pindah ke Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, dan sampai meninggal serta dimakamkan di sana,” tutur Hadi.
Meski tidak mengetahui secara rinci kiprah KH Kafrawi selama menjabat sebagai penghulu agama, Hadi menegaskan bahwa jasa beliau dalam menyebarkan Islam di Mandirejo tetap hidup dalam ingatan masyarakat.
Pada bulan-bulan tertentu, warga menggelar doa bersama untuk mengenang beliau.
“Dan, setiap menjelang Ramadan biasanya masyarakat sini bersama-sama berziarah di makam Mbah Kafrawi,” katanya.
Untuk mengenang jasa sang ayah, KH Fathurrahman Kafrawi kemudian mendirikan Masjid Kafrawi.
Masjid itu menjadi penanda sejarah, sekaligus pengingat bahwa dari Mandirejo pernah lahir seorang ulama yang jejak pengabdiannya melampaui zamannya.(fud/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama