RADARTUBAN - Jejak kehidupan KH Abu Ishaq Madyani tak terekam utuh dalam catatan tertulis, apalagi dokumentasi visual.
Namun namanya tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Kecamatan Rengel, sebagai salah satu ulama perintis penyebaran Islam pada abad ke-19.
KH Abu Ishaq Madyani, yang akrab disebut Mbah Madyani diketahui memiliki garis keturunan dari Kecamatan Kerek.
Dia lahir dari seorang ibu yang merupakan istri Lurah Dusun Mayang—kini Desa Temayang—Kecamatan Kerek, bernama Demang Djono. Meski demikian, kiprahnya justru memberi pengaruh besar bagi perkembangan Islam di wilayah Kecamatan Rengel.
Hingga kini, jejak dakwah Mbah Madyani masih dikenang, meski sebagian besar bersumber dari cerita tutur yang diwariskan secara turun-temurun dalam garis keluarga, serta sejumlah manuskrip bertuliskan huruf Arab yang diyakini sebagai karya tulisnya.
Generasi keenam KH Abu Ishaq Madyani, MA Ghufron Zamroni, menuturkan bahwa tidak ada catatan pasti mengenai tanggal dan tahun kelahiran sang ulama.
Namun, berdasarkan manuskrip silsilah keluarga, Mbah Madyani wafat pada Kamis Pon, 14 Muharam 1294 Hijriah, bertepatan dengan 29 Januari 1877.
“Berdasarkan cerita keluarga, diperkirakan beliau lahir sekitar awal 1800-an,” kata Zamroni saat ditemui di kediamannya di Desa Rengel, Senin (24/2).
Gus Oni, panggilan akrab Zamroni, menjelaskan, sejak usia belia sekitar 10–12 tahun, KH Madyani telah menimba ilmu di sebuah pesantren di Kabupaten Madiun yang diasuh Kiai Bagus Harun.
Dia kemudian melanjutkan pendidikan ke pesantren di Bungah, Kabupaten Gresik, di bawah asuhan KH Qomaruddin.
Di pesantren tersebut, KH Madyani dikenal sebagai santri menonjol. Putra KH Qomaruddin, KH Sholeh Awwal, kemudian menikahkannya dengan sang putri, Rosyiah.
Usai menikah, KH Madyani mendapat amanah untuk kembali ke tanah kelahirannya di Kecamatan Kerek guna mengembangkan ajaran Islam, di tengah masyarakat yang saat itu masih kuat dipengaruhi animisme, dinamisme, serta bayang-bayang kekuasaan kolonial Belanda.
Pada periode yang hampir bersamaan, pemerintah kolonial Belanda berencana membangun Sendang Beron di Desa Beron, Kecamatan Rengel, sebagai waduk irigasi.
Namun, proyek tersebut berulang kali gagal akibat tanggul yang selalu jebol.
Masyarakat kala itu meyakini kegagalan tersebut disebabkan oleh makhluk gaib berupa uling putih, yang digambarkan sebagai belut raksasa berwarna putih.
Upaya pemerintah kolonial untuk mengatasi gangguan tersebut tak membuahkan hasil hingga akhirnya dibuka sayembara.
Barang siapa mampu mengatasinya, akan diberi hadiah sesuai permintaan.
KH Madyani kemudian mengikuti sayembara itu. Dengan bekal ilmu yang dimilikinya, dia berhasil memenangkan tantangan tersebut.
“Setelah itu, barulah tanggul bisa dibangun. Wilayah itu kini dikenal sebagai Bentengrowo,” ujar Gus Oni.
Sebagai imbalan, KH Madyani meminta sebidang tanah di wilayah timur Kecamatan Rengel. Permintaan itu dikabulkan.
Di atas tanah tersebut, dia mendirikan sebuah langgar sederhana berbahan kayu yang menjadi pusat kegiatan mengaji dan ibadah masyarakat setempat.
Seiring waktu, langgar tersebut semakin ramai. Santrinya tak hanya berasal dari Tuban, namun juga dari berbagai daerah di luar Jawa Timur.
Meski tak memiliki nama resmi, kawasan itu dikenal masyarakat sebagai Kampung Pesantren, yang kini lebih dikenal dengan sebutan Santren.(*/ds-bersambung)
Editor : Yudha Satria Aditama