Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Manuskrip 200 Tahun KH Madyani Tersimpan di Rengel Tuban, Jejak Literasi KH Abu Ishaq Madyani

Andreyan (An) • Kamis, 26 Februari 2026 | 17:05 WIB

 

MA. Ghufron Zamroni, generasi keenam KH Abu Ishaq Madyani saat menunjukan kitab dan manuskrip peninggalan KH KH Abu Ishaq Madyani di kediamannya yang beralamat di Jalan A. Yani, Gang Karang.
MA. Ghufron Zamroni, generasi keenam KH Abu Ishaq Madyani saat menunjukan kitab dan manuskrip peninggalan KH KH Abu Ishaq Madyani di kediamannya yang beralamat di Jalan A. Yani, Gang Karang.

RADARTUBAN - Selain dikenal hidup sederhana dan dekat dengan masyarakat, KH Abu Ishaq Madyani juga tercatat memiliki tradisi literasi yang kuat.

Ulama yang diperkirakan lahir pada abad ke-18 itu meninggalkan sejumlah karya tulis yang hingga kini masih tersimpan rapi di lingkungan keluarganya.

Kisah tersebut dituturkan oleh MA Ghufron Zamroni, 45, generasi keenam keturunan KH Abu Ishaq Madyani. Menurut dia, karya tulis sang ulama diperkirakan cukup banyak.

Namun, yang saat ini tersimpan di kediamannya di Jalan A Yani Gang Karang, Desa/Kecamatan Rengel, hanya tujuh kitab dan manuskrip bertuliskan Arab Pegon. Sejumlah karya lainnya, kata dia, berada di tangan garis keturunan yang berbeda.

Kitab-kitab tersebut mayoritas bersampul kulit dan memuat kajian fikih, tasawuf, serta tauhid. Beberapa di antaranya adalah Kitab Ilmu Tafsir Tibyanul Asror, Kitab Ilmu Hadist Arbain Madyani, dan Kitab Al-Mukharror yang membahas fikih.

Berdasarkan penelusuran keluarga, karya-karya itu diperkirakan berusia lebih dari dua abad. Penanda waktunya dapat dilihat dari catatan tahun yang tertulis di sejumlah halaman.

Salah satunya terdapat pada Kitab Al-Mukharror yang mencantumkan tahun 1241 Hijriah atau bertepatan dengan 1825 Masehi, lengkap dengan keterangan bahwa kitab tersebut ditulis saat KH Madyani berada di Bungah, Kabupaten Gresik.

“Beberapa kitab bahkan sudah dilakukan penelitian dan dipastikan keasliannya sebagai karya tulis Mbah Madyani yang ditulis sekitar 200 tahun silam. Karena faktor usia, ada yang sampulnya sudah rusak,” ujar Gus Oni, panggilan akrab Ghufron.

Dia menuturkan, berdasarkan cerita turun-temurun di keluarga, KH Madyani merupakan sosok yang mengagumi keteladanan Nabi Yusuf.

Kekaguman itu diabadikan dalam Kitab Ilmu Tafsir Tibyanul Asror yang berisi tafsir Surah Yusuf beserta kisah hidup Nabi Yusuf.

Tak hanya itu. Semasa hidupnya KH Madyani juga dikenal gemar menghafalkan hadis. Sebanyak 40 hadis yang dihafalkannya kemudian dibukukan dan kini masih tersimpan utuh dalam Kitab Ilmu Hadist Arbain Madyani.

Menurut Gus Oni, keterbatasan teknologi dan minimnya literatur pada masa itu membuat proses transmisi ilmu banyak bertumpu pada hafalan dan tulisan tangan. Hadis-hadis yang dikumpulkan KH Madyani diperkirakan diperoleh saat dia bermukim di Makkah.

“Beliau bersama istrinya sempat tinggal di Makkah beberapa tahun setelah menunaikan ibadah haji. Hadis yang dibukukan sebagian besar berkaitan dengan pentingnya menjaga salat lima waktu dan keutamaan salat berjamaah,” ujarnya. (*/ds—bersambung)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #arab pegon #ulama #Rengel