Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Pelayanan Kacau, Klinik Jantung RSUD Koesma Tuban Ditutup Sementara Mulai 26 Februari

Ahmad Atho’illah • Sabtu, 28 Februari 2026 | 17:50 WIB

Surat pengunduran diri dokter spesialis jantung berakhir. Poli jantung RSUD Koesma Tuban terancam lumpuh.
Surat pengunduran diri dokter spesialis jantung berakhir. Poli jantung RSUD Koesma Tuban terancam lumpuh.

RADARTUBAN – Yang dikhawatirkan atas kacaunya pelayanan klinik jantung RSUD dr. R. Koesma Tuban menyusul keterbatasan dokter spesialis jantung, akhirnya terjadi juga.

Setelah sekian bulan hanya membuka praktik tiga hari dalam seminggu, dan bahkan beberapa pekan terakhir hanya dua hari, kini RSUD resmi menutup layanan klinik jantung hingga satu bulan ke depan.

Plt Direktur RSUD dr. R. Koesma Tuban dr. Abdul Rochman membenarkan ihwal penutupan sementara layanan klinik jantung tersebut. Terhitung dari 26 Februari-25 Maret 2026.

Disinggung terkait alasan penutupan layanan, Rochman menjawab secara diplomatis—bahwa dokter Fani Suslina, satu-satunya dokter spesialis jantung yang dimiliki RSUD—tidak memiliki komitmen terhadap jadwal praktiknya. Karena itu, akhirnya diputuskan untuk sekalian menutup sementara praktik klinik jantung.

Hanya saja, Rochman tidak menjawab pertanyaan wartawan koran ini ihwal keputusan pengunduran diri dokter Fani yang sudah final.

"(Apa alasannya klinik jantung ditutup sementara, Red) karena beliau (dokter Fani, red) tidak komitmen dengan jadwal praktiknya,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban, kemarin (27/2).

Sebagaimana diketahui, RSUD Koesma sebenarnya memiliki dua dokter spesialis jantung. Hanya saja, yang aktif praktik hanya satu, yakni dokter Fani Suslina, Sp.JP.

Itu pun yang bersangkutan sudah mengajukan surat pengunduran diri sejak awal Januari lalu. Namun, surat pengunduran dirinya “diolor” sambil menunggu kedatangan dr. Hariman Kristian, Sp.JP. yang masih menjalani pendidikan di China.

Namun, beberapa pekan terakhir ini semakin kacau. Dokter Fani sering izin. Sementara dokter Hariman yang menjalani pendidikan di Negeri Tirai Bambu tak kunjung datang.

Lantas, bagaimana nasib pasien penyakit jantung yang selama ini dilayani RSUD? Rochman menyampaikan, informasi ihwal penutupan sementara layanan klinik jantung akan segera disampaikan ke masing-masing pasien melalui pesan WhatsApp.

"Pasien bisa melakukan pelayanan di RS yang ada dokter jantungnya,’’ ujar dia.

Lalu, bagaimana nasib pasien BPJS yang surat rujukan dari fasilitas kesehatan (faskes) tingkat pertama sudah kadung di RSUD, sementara pelayanan terhadap pasien harus berdasar surat rujukan? Rochman memastikan bahwa surat rujukan dari faskes tingkat pertama bisa dialihkan ke rumah sakit lain—tanpa harus menunggu masa berlaku surat rujukan berakhir.

"Bisa dialihkan, dan nanti dibantu petugas PIPP (pemberi informasi dan penanganan pengaduan) RSUD,’’ katanya.

LK, anak pasien BPJS penyakit jantung yang selama ini dirujuk ke RSUD—menyesalkan penutupan klinik jantung tersebut. Bahkan, terang dia, informasi yang diterima bukan sampai Maret, namun sampai Mei.

"Pekan lalu kami kontrol ke RSUD, oleh petugas disampaikan, katanya baru bisa kontrol lagi ke RSUD pada bulan Mei nanti. Alasannya apa, kami tidak tahu pasti,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Sebagai gantinya, LK dan orang tuanya diminta kembali melakukan pelayanan di faskes tingkat pertama, termasuk menebus obatnya. "Jadi, selama beberapa bulan ke depan kontrolnya di puskesmas. Untuk obatnya, juga di puskesmas,’’ katanya.

Bagaimana jika pasien membutuhkan penanganan serius dari dokter spesialis jantung? LK tidak bisa menjawab. "Bingung saya, Mas. Kok malah seperti ini ya pelayanan di RSUD,’’ tandasnya bingung.(tok)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#menutup layanan klinik jantung #RSUD dr R Koesma Tuban #dokter spesialis jantung #Klinik Jantung