RADARTUBAN – Setelah sempat tertekan akibat pandemi, mesin ekonomi Kabupaten Tuban kini kembali panas.
Pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Bumi Ronggolawe berhasil menembus angka 4,23 persen, naik signifikan dari tahun 2024 yang tercatat sebesar 3,86 persen.
Kenaikan performa ekonomi ini terlihat dari angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Tuban yang menembus Rp 92,538 triliun.
Angka tersebut naik tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 87,110 triliun.
Menariknya, pertumbuhan ekonomi di Bumi Wali tidak hanya didominasi oleh sektor industri maupun pertambangan, melainkan juga merata di hampir semua lapangan usaha.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Tuban Wicaksono mengungkapkan, bahwa mesin penggerak ekonomi juga dipicu oleh tingginya mobilitas penduduk dan produktivitas di berbagai sektor.
Mulai dari industri pengolahan, jasa perusahaan, pertanian, hingga sektor transportasi dan pergudangan yang kembali bergairah.
‘’Adanya proyek pembangunan infrastruktur, produksi padi dan jagung yang melimpah, hingga peningkatan fasilitas publik yang memberikan multiplier effect bagi masyarakat,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban, Senin (9/3).
Wicak, sapaannya melanjutkan, selama ini sektor industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan perekonomian di Tuban.
Namun, perlu diketahui, bahwa hal ini bukan hanya industri semen yang berkontribusi, namun sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga menjadi penunjang pertumbuhan ekonomi.
‘’Jika industri pengolahan besar seperti semen mengalami penurunan, maka masih ada puluhan ribu UMKM yang menopang. Meski sering dipandang tidak menyumbang, nyatanya UMKM sangat potensial dalam meningkatkan ketahanan sektor ekonomi kita," tegas lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) Jakarta ini.
BPS juga melakukan survei menyeluruh terhadap 17 lapangan usaha.
Meliputi pertanian, kehutanan, dan perikanan; pertambangan dan penggalian; industri pengolahan; pengadaan listrik dan gas; pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang; konstruksi; perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor; transportasi dan pergudangan.
Kemudian, penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum; informasi dan komunikasi; jasa keuangan dan asuransi; real estat; jasa perusahaan; administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib; jasa pendidikan; jasa kesehatan dan kegiatan sosial; serta terakhir jasa lainnya.
Pejabat asal Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Tuban ini melanjutkan, perekonomian di Tuban masih didominasi oleh empat sektor lapangan usaha, yakni industri pengolahan sebesar 29,56 persen.
Kemudian lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 18,74 persen, disusul perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 14,06 persen. Selanjutnya, konstruksi sebesar 11,23 persen.
‘’Kami berharap laju pertumbuhan ini menjadi sinyal positif bagi kondisi perekonomian di Kabupaten Tuban ke depannya,” tandasnya.
Kenaikan pertumbuhan ekonomi ini turut mendapat atensi dari kalangan akademisi.
Dosen ekonomi Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban Inarotul A’yun menilai, jika kontribusi UMKM di Tuban selaras dengan kondisi nasional di mana 99 persen unit usaha berasal dari sektor ini.
UMKM bukan tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan juga penggerak perputaran uang di akar rumput.
‘’Sektor ini menyerap hingga 97 persen tenaga kerja. Artinya, UMKM adalah sumber mata pencaharian utama yang langsung menekan angka pengangguran di Tuban,” papar A’yun.
Dia juga memberikan catatan, untuk menguatkan peran UMKM dalam menopang laju pertumbuhan ekonomi, UMKM tetap perlu didukung melalui akses permodalan, pendampingan usaha, serta pemanfaatan teknologi untuk semakin memperluas pasar dan distribusi produk.
Senada dengan A’yun, dosen ekonomi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Tuban Hariyanti menegaskan, bahwa UMKM juga memiliki peran penting menjadi roda penggerak ekonomi.
‘’Pertumbuhan ekonomi Tuban yang naik menjadi 4,23 persen menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi daerah cukup bergerak, terutama dari sektor industri pengolahan.
Di dalamnya UMKM juga punya peran besar, karena selain jumlahnya banyak, UMKM juga menyerap tenaga kerja,” terangnya.
Yanti sapaannya melanjutkan, jika UMKM berkembang, dampaknya akan langsung terasa pada perekonomian daerah.
Hal ini juga perlu menjadi atensi pemerintah daerah untuk membuat UMKM menjadi lebih berkembang. Sebab, UMKM merupakan salah satu sektor yang menopang ekonomi lokal, baik dari sisi produksi maupun penyerapan tenaga kerja.
‘’Ketika UMKM mengalami penurunan, daerah perlu siaga dan mencari solusi agar penurunan tersebut tidak berdampak lebih luas pada perekonomian masyarakat. UMKM ini ibarat fondasi ekonomi lokal, sehingga ketika melemah, efeknya bisa dirasakan pada berbagai sektor lainnya,” pungkas Yanti. (saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama